Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

MPLS SMAN 1 Seribu Riam 2026/2027: Menyambut Wajah Baru Dengan Senyuman Bukan Teriakan

Ricky Nazriel • Selasa, 14 Juli 2026 | 08:52 WIB
Ricky Nazriel
Ricky Nazriel

Oleh; Ricky Nazriel


KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Tahun ajaran 2026/2027 telah tiba, dan gerbang SMAN 1 Seribu Riam kembali dibuka untuk menyambut wajah-wajah baru.

Bagi siswa kelas X yang melangkah masuk dengan seragam putih-abu yang masih kaku, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bukan sekadar formalitas administratif untuk mengisi absen.

Di sekolah kami, di mana gedung mungkin tidak seindah sekolah-sekolah kota besar dan fasilitas laboratorium masih harus "diakali" dengan kreativitas.

MPLS memiliki makna yang jauh lebih dalam: ia adalah momen pertama bagi siswa untuk memahami bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih keunggulan intelektual dan karakter.

Seringkali, narasi MPLS di banyak sekolah terjebak pada dua kutub ekstrem, perpeloncoan (pelecehan, penganiyaan, penghinaaan) yang justru akan menimbulkan traumatis, kegiatan seremonial yang hampa dan membosankan.

Di SMAN 1 Seribu Riam, kita harus memilih jalan berbeda: MPLS sebagai inkubator kreativitas, empati, dan keberanian berpikir.

MPLS harus menjadi ruang aman di mana siswa diperkenalkan pada konsep pertumbuhan mindset. Tidak ada tempat bagi ejekan berdasarkan asal daerah, status ekonomi, atau penampilan fisik.

Mengapa demikian? Karena siswa-siswi kita datang dari latar belakang yang beragam, dengan tantangan ekonomi dan sosial yang nyata. Mereka tidak butuh dihukum dengan push-up atau diteriaki oleh kakak kelas yang sok merasa "dewasa". Mereka butuh dibuktikan bahwa mereka mampu.

Oleh karena itu, materi MPLS tahun ini harus bergeser dari orientasi hierarki menjadi orientasi kolaborasi. Alih-alih menghafal visi-misi sekolah secara hafalan buta, biarkan mereka mencari tahu melalui wawancara dengan guru, perpustakaan. Biarkan mereka mengenal sekolah bukan sebagai bangunan, tetapi sebagai komunitas manusia.

Selain itu, kita harus secara tegas meluruskan peran kakak kelas dan pengurus OSIS dalam MPLS. Selama bertahun-tahun ada stigma bahwa menjadi senior berarti memiliki hak untuk mendominasi junior.

Di SMAN 1 Seribu Riam, kita harus memutus rantai budaya toksik ini. Kepemimpinan bukan tentang seberapa keras suara kita berteriak, melainkan tentang seberapa baik kita melayani. Panitia MPLS harus diposisikan sebagai mentor dan kakak asuh, bukan sebagai "polisi" yang mencari-cari kesalahan.

Jika ditemukan adanya unsur perpeloncoan (pelecehan, penganiyaan) penghinaan verbal, atau pemaksaan fisik sekecil apa pun itu bukanlah tradisi, melainkan pelanggaran hak asasi manusia dan kode etik pendidikan.

Sekolah harus sebagai wadah yang membuat semua siswa terutama siswa baru merasa aman. Kita tidak ingin melahirkan generasi yang percaya bahwa kekerasan adalah alat validasi kekuasaan.

Sebaliknya, kita ingin menanamkan nilai bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan melindungi mereka yang lebih lemah. Jangan sampai mereka mereka (siswa baru) merasa terpaksa sekolah di sini atau menjadikan sekolah ini sebagai alternatif kesekian, kita harus jadikan SMAN 1 Seribu Riam sebagai tujuan utama mereka dan bagi semua orang.

Begitu juga kepada para panitia MPLS, pembina MPLS, maupun para guru, pesan ini menurut saya sangat penting: berhentilah terjebak pada materi-materi "jadul" yang monoton. Kita hidup di tahun 2026.

Siswa baru kita adalah Generasi Alpha bukan Gen Z lagi, yang tumbuh dengan akses informasi cepat, dinamis, dan kritis. Mereka tidak akan terkesan dengan ceramah satu arah selama berjam-jam atau hafalan tata tertib yang disampaikan dengan nada mengancam.

Panitia harus berani berinovasi. Ubah pendekatan dari "menginstruksikan" menjadi "melibatkan". Ganti sesi hafalan visi-misi dengan metode lain. Ganti baris-berbaris kaku di bawah terik matahari dengan sesi ice breaking kreatif, permainan strategi tim, atau diskusi kelompok kecil.

Tujuan utamanya adalah menciptakan rasa nyaman dan bahagia. Jika hari-hari pertama mereka diisi dengan tekanan, pemikiran mereka terhadap sekolah akan menjadi negatif. Sebaliknya, jika mereka disambut dengan tawa dan tantangan yang seru, mereka akan merasa "diterima" dan "dimiliki" oleh sekolah ini.

Inovasi juga berarti peka terhadap kebutuhan individu. Sediakan ruang bagi siswa yang introvert untuk berpartisipasi tanpa dipaksa tampil berlebihan. Hargai keberagaman bakat; libatkan mereka yang memiliki talenta atau bakat dalam proyek kolaboratif MPLS sehingga talentanya dihargai, bukan dihakimi.

Kita juga perlu merevolusi cara menyampaikan nilai-nilai moral dan motivasi. Lupakan pidato panjang lebar di depan kelas. Generasi sekarang memiliki rentang perhatian (attention span) yang pendek namun tajam terhadap autentisitas. Kata-kata motivasi yang bertele-tele akan dianggap sebagai "noise".

Sebaliknya, selipkan pesan-pesan kehidupan dalam bentuk yang lebih puitis, ringkas, dan estetis seperti puisi pendek atau kutipan aesthetic yang sering mereka temui di media sosial.

Saya ingin mengatakan, bahasa sastra memiliki kekuatan untuk menyentuh hati tanpa terasa menggurui. Sebuah motivasi yang dibungkus dalam bait puisi atau kata-kata aesthetic jauh lebih membekas daripada daftar larangan.

Biarkan motivasi itu datang sebagai teman bercerita, bukan sebagai hakim yang mendikte. Ketika kata-kata itu dikemas dengan indah, mereka tidak hanya didengar, tetapi juga dibagikan ulang, menjadi bagian dari identitas baru mereka di sekolah.

Lebih jauh lagi, para panitia dan guru pembina hingga kepala sekolah harus memiliki keberanian untuk melepaskan diri dari belenggu "standarisasi kaku" yang sering kali tidak sesuai dengan realitas di lapangan.

Jangan terpaku secara buta pada panduan teknis dinas yang terlalu umum, atau terjebak dalam rasa inferioritas dengan mencoba meniru model MPLS sekolah-sekolah elit di kota besar. Menjiplak konteks adalah kesalahan fatal.

SMAN 1 Seribu Riam memiliki ekosistem dan tantangan yang unik. Jika sekolah kota menggunakan teknologi canggih untuk simulasi kepemimpinan, kita bisa menggunakan kearifan lokal dan gotong royong warga sekitar sebagai laboratorium sosial.

Jika orang fokus pada public speaking di auditorium ber-AC, kita bisa melatih keberanian berbicara di tengah alam terbuka. Guru dan panitia harus berani berkata: "Ini cara kami, ini konteks kami, dan ini kekuatan kami."

Dengan demikian, MPLS menjadi cermin dari identitas mereka yang sebenarnya bangga, autentik, dan berakar kuat pada tanah tempat mereka berdiri.

Pada akhirnya, tujuan tertinggi dari semua inovasi ini adalah melahirkan manusia-manusia muda yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga berani secara moral.

Kita ingin menciptakan generasi yang lantang menyuarakan kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu bertentangan dengan otoritas termasuk kepada sekolah atau guru itu sendiri jika mereka melakukan kesalahan fatal. Budaya ketakutan terhadap figur otoritas harus dihapus.

Para guru harus mendekati siswa sebagai sahabat sejajar dalam proses pencarian ilmu. Ketika seorang siswa merasa aman untuk berkata "Pak/Bu, menurut saya ini kurang tepat" tanpa khawatir dicap pembangkang, saat itulah pendidikan karakter yang sesungguhnya terjadi.

Kepercayaan adalah mata uang paling berharga di ruang kelas. Kepada para orang tua, kami mengajak Anda untuk tidak melihat MPLS sebagai beban biaya atribut, melainkan dukungan moral. Tanyakan kepada anak Anda, "Apa hal baru yang kamu pelajari dan kamu ketahui tentang sekolahmu hari ini?" bukan "Kamu dapat tugas apa dari kakak kelas?"

Kepada para siswa baru, selamat datang di SMAN 1 Seribu Riam. Lihatlah dinding-dinding sekolah ini. Mungkin ada retakan, mungkin catnya sudah memudar. Tapi ingatlah, retakan adalah tempat cahaya masuk. Di sinilah kalian akan belajar bahwa kecerdasan tidak diukur dari merek sepatu atau gadget terbaru, melainkan dari ketajaman pikiran dan keluhuran hati.

Mari kita jadikan MPLS 2026/2027 bukan sebagai masa orientasi yang ditakuti, melainkan sebagai masa adaptasi yang dinanti. Karena di SMAN 1 Seribu Riam, kita tidak mencetak robot yang patuh, melainkan manusia-manusia merdeka yang siap menghadapi dunia dengan bekal ilmu, integritas, dan keberanian untuk berinovasi meski dalam keterbatasan.(*)

*) Penulis adalah putra asli Desa Muara Joloi, berprofesi sebagai guru honorer sekaligus penulis dan pelukis.

 

Editor : Agus Pramono
sman 1 seribu riam opini pendidikan mpls guru kreativitas