SEORANG raja terkenal bijaksana. Kerajaannya makmur, hartanya melimpah, rakyatnya sejahtera. Namun, ada satu hal yang mengganggu pikirannya.
Mengapa banyak orang kaya justru tampak gelisah dan tidak tenang, sedangkan beberapa rakyat sederhana terlihat begitu bahagia?
Suatu hari, raja melihat seorang tukang kebun sedang bekerja sambil bersiul. Wajahnya cerah. Pulang ke rumah, ia bercanda dengan istri dan anak-anaknya. Makan seadanya, tetapi tertawa lepas.
Raja penasaran.
"Apa rahasia kebahagiaan orang itu?" tanyanya kepada penasihat kerajaan.
Sang penasihat tersenyum. "Baginda, orang itu belum masuk ke dalam Klub 99."
"Klub 99? Apa itu?"
"Besok Baginda akan mengerti."
Malam harinya, atas perintah penasihat, sebuah kantong berisi 99 dinar emas diletakkan di depan rumah tukang kebun.
Keesokan pagi, tukang kebun menemukan kantong itu. Dengan tangan gemetar ia menghitung isinya.
"Satu... dua... tiga..."
Hingga hitungan terakhir.
"Sembilan puluh sembilan?"
Ia menghitung lagi. Tetap 99.
"Aneh. Pasti kurang satu. Seharusnya genap 100."
Sejak hari itu hidupnya berubah.
Ia mulai bekerja lebih keras. Ia berhenti bercanda dengan keluarganya. Ia mengurangi makan agar bisa menabung. Ia terus memikirkan bagaimana mendapatkan satu dinar lagi agar jumlahnya menjadi 100.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan.
Ia memang semakin kaya, tetapi wajahnya tak lagi ceria. Siulan yang dulu mengiringi pekerjaannya menghilang. Senyumnya ikut lenyap.
Raja yang melihat perubahan itu bertanya kepada penasihatnya.
"Inikah yang kau maksud dengan Klub 99?"
Penasihat mengangguk.
"Ya, Baginda. Banyak orang sebenarnya sudah memiliki lebih dari cukup. Namun mereka kehilangan kebahagiaan karena terus mengejar 'satu lagi'. Satu rumah lagi. Satu mobil lagi. Satu jabatan lagi. Satu miliar lagi. Mereka lupa menikmati 99 yang telah dimiliki karena sibuk mengejar angka 100 yang belum tentu membuat mereka puas."
Begitulah manusia. Sering kali bukan kekurangan yang membuat kita menderita, melainkan keinginan yang tak pernah selesai.
Sesekali berhentilah menghitung apa yang belum dimiliki. Hitunglah nikmat yang telah Allah titipkan. Bisa jadi, bukan harta yang perlu ditambah, melainkan rasa syukur yang perlu diperbesar.
Selamat menikmati hari ini. Karena kebahagiaan sering kali dimulai dari hati yang merasa cukup. Barakallahu fiikum (*)
Editor : Agus Pramono