KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Kabar duka menyelimuti bumi Seribu Riam pada Minggu pagi (9/8/2026). KH Saeraji Aziz, seorang yang mendedikasikan separuh hidupnya sebagai pemuka agama, imam masjid, sekaligus penghulu di Desa Muara Joloi, Kecamatan Seribu Riam, Murung Raya meninggal dunia.
Beliau mengembuskan napas terakhirnya di kediaman beliau di Demak, Jawa Tengah. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan figur birokrasi keagamaan, melainkan berpulangnya seorang guru spiritual dan pengelana dakwah tangguh yang menorehkan tinta emas dalam sejarah syiar Islam di pedalaman Kalimantan Tengah.
Kisah hidup KH. Saeraji Aziz adalah teladan nyata dari konsep hijrah dan jihad kultural. Beliau melangkah meninggalkan kenyamanan tanah kelahirannya di Demak, Jawa Tengah, untuk merantau ke pulau seberang.
Perjalanan panjang tersebut bermula dari niat ganda yang luhur: berdagang sekaligus menyebarkan agama Islam.
Membawa semangat berniaga ala sahabat Nabi, beliau menyusuri rute-rute sulit di hulu sungai Barito, menembus desa-desa terpencil yang kala itu masih minim akses komunikasi dan transportasi.
Jejak dakwah almarhum terekam kuat di ingatan masyarakat pelosok. Beliau pernah menetap di Desa Masao, Desa Parahau Lama, hingga ke Tumbang Jojang.
Di setiap jengkal tanah yang disinggahinya, beliau tidak hanya menawarkan barang dagangan fisik, tetapi juga menjajakan kedamaian Islam melalui akhlak dan keteladanan.
Hingga akhirnya, pada sekitar tahun 1990-an, garis takdir menuntun langkah kakinya menetap di Desa Muara Joloi. Di desa yang dikepung riam-riam ganas inilah, beliau memantapkan jangkar pengabdiannya menjadi imam masjid, penghulu, sekaligus kompas spiritual bagi warga lokal.
Menjadi guru spiritual di kawasan Seribu Riam menuntut keikhlasan tanpa batas. Di tengah isolasi geografis, KH. Saeraji Aziz hadir menjadi tempat bersandar bagi warga yang mencari ketenangan batin.
Sebagai penghulu, beliau bukan sekadar pencatat administratif pernikahan di atas kertas. Kapasitasnya sebagai ulama membuat setiap nasihat perkawinan yang disampaikannya membekas mendalam, menjadi fondasi kokoh bagi keharmonisan rumah tangga masyarakat hulu selama puluhan tahun.
Kepulangan beliau ke hadirat Sang Pencipta di tanah Demak seakan menutup sebuah siklus perjalanan spiritual yang paripurna.
Demak, yang secara historis merupakan rahim dari syiar Islam awal Wali Songo di Jawa, telah melahirkan seorang putra daerah yang mampu mengadaptasikan spirit religiusitas tersebut ke dalam denyut nadi kehidupan multikultural di pedalaman Borneo.
Beliau membuktikan bahwa dakwah sejati tidak dibatasi oleh sekat suku maupun letak geografis.
Wafatnya KH Saeraji Aziz pada usia 61 tahun meninggalkan ruang kosong yang teramat dalam dan sulit digantikan.
Kharisma, kesabaran, dan jejak historis perjuangan beliau sejak era 90-an di tanah Seribu Riam adalah warisan berharga yang harus dijaga. Kepergian beliau di hari Minggu pagi ini harus menjadi refleksi bersama, terutama bagi generasi muda dan instansi keagamaan di Murung Raya.
Siapakah yang akan melanjutkan estafet kegigihan dakwah, kepemimpinan spiritual, dan pelayanan umat di garis batas Seribu Riam?
Selamat jalan, KH. Saeraji Aziz. Selamat kembali ke tanah kelahiranmu, membawa sejuta amal jariyah dari hulu Borneo.
Dedikasi dan keluhuran budi yang telah Engkau tebarkan di Muara Joloi akan terus hidup dan abadi di hati kami.(*)
*) Ricky Nazriel, putra daerah Muara Joloi adalah seorang guru di Seribu Riam.
Editor : Ayu Oktaviana