Oleh: Dr. dr. Donna Novina Kahanjak, M.Biomed (Departemen Fisiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya)
KABUT asap akibat kebakaran hutan dan lahan merupakan masalah lingkungan dan kesehatan yang berulang di Kalimantan Tengah. Yang perlu dipahami, ancamannya bukan hanya asap yang terlihat, tetapi juga partikel dan gas pencemar yang ikut terhirup.
Dua pencemar penting dalam asap kebakaran gambut adalah PM2,5 dan karbon monoksida (CO). Keduanya sama-sama berbahaya, tetapi berbeda. PM2,5 adalah partikel sangat halus, sedangkan CO adalah gas.
PM2,5 berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru hingga mencapai alveoli. Paparan partikel ini dapat memicu iritasi saluran napas, batuk, sesak, memperberat asma, serta berhubungan dengan peradangan dan risiko gangguan kardiovaskular.
Apa isi PM2,5 dari asap gambut Kalimantan Tengah?
Penelitian Jayarathne dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam jurnal Atmospheric Chemistry and Physics tahun 2018 menganalisis langsung PM2,5 dari asap kebakaran gambut saat episode El Niño 2015 di Kalimantan Tengah.
Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 72 persen massa partikel yang dianalisis berupa karbon organik, sedangkan elemental carbon sekitar 1 persen, ion larut air sekitar 1 persen, dan oksida logam sekitar 0,1 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa partikel halus dari kebakaran gambut Kalimantan Tengah sangat didominasi material berbasis karbon organik.
Namun, karbon organik dalam PM2,5 berbeda dengan gas karbon monoksida atau CO
CO merupakan gas hasil pembakaran tidak sempurna. Setelah terhirup, CO masuk ke darah dan berikatan sangat kuat dengan hemoglobin, sekitar 200–250 kali lebih kuat dibandingkan oksigen. Akibatnya, kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan dapat terganggu. Paparan CO pada kadar tinggi dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, lemas, mual, sesak hingga kebingungan.
Apa dampaknya bagi masyarakat?
Dampak kesehatan kabut asap di Kalimantan Tengah juga terlihat dalam penelitian Phung dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam International Journal of Epidemiology tahun 2025.
Penelitian tersebut menganalisis kunjungan gangguan pernapasan di enam puskesmas di Kota Palangka Raya dan Kabupaten Pulang Pisau selama 2015–2019. Selama periode itu tercatat 32.824 kunjungan karena gangguan pernapasan.
Di Kabupaten Pulang Pisau, hari kabut asap berhubungan dengan peningkatan risiko kunjungan gangguan pernapasan sekitar 36,6 persen. Ketika kabut asap dikategorikan sebagai fire-haze, peningkatan risikonya mencapai sekitar 74,4 persen.
Risiko juga meningkat ketika kabut asap berlangsung lama. Pada episode kabut asap 15 hari atau lebih, risiko kunjungan gangguan pernapasan di Pulang Pisau meningkat sekitar 82,8 persen, sedangkan pada fire-haze dengan durasi serupa sekitar 88,1 persen.
Perlu dicatat bahwa penelitian Phung dkk. menggunakan PM10 dan data hotspot, bukan mengukur PM2,5 dan CO secara langsung. Karena itu, hasil kedua penelitian sebaiknya dibaca saling melengkapi, bukan dianggap sebagai satu hubungan sebab-akibat langsung.
Pesan untuk masyarakat
Kabut asap gambut bukan hanya persoalan jarak pandang. Di dalamnya terdapat partikel dan gas yang dapat masuk ke tubuh setiap kali kita bernapas.
Saat kualitas udara memburuk, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai, serta memberi perhatian khusus kepada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit jantung atau paru.
Yang paling penting tetap pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Menjaga gambut dari kebakaran berarti menjaga udara, paru-paru, jantung, dan kesehatan masyarakat Kalimantan Tengah.
Udara bersih bukan sekadar kebutuhan, tetapi bagian penting dari kesehatan masyarakat.
Sumber ilmiah:
Jayarathne T, Stockwell CE, Gilbert AA, et al. Chemical characterization of fine particulate matter emitted by peat fires in Central Kalimantan, Indonesia, during the 2015 El Niño. Atmospheric Chemistry and Physics. 2018;18:2585–2600.
Phung VLH, Ueda K, Yulianti N, et al. Effects of smoke haze on respiratory clinic visits in Central Kalimantan, Indonesia according to different haze characteristics. International Journal of Epidemiology. 2025;54(6):dyaf169.
Editor : Ayu Oktaviana