Akhlak.

Rohansyah • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 16:48 WIB
Rohansyah
Rohansyah

 

WARGA sebuah desa dikejutkan oleh seekor macan tutul yang berkeliaran di sekitar permukiman. Anehnya, kepala macan tutul itu tersangkut di sebuah ember. Ia berlari kesana-kemari dalam keadaan panik, tetapi tak seorang pun berani mendekat.

"Kasihan, harus ditolong," kata seseorang.

"Tapi bagaimana kalau setelah embernya dilepas, dia langsung menerkam kita?" jawab yang lain.

Semua orang hanya berdiri dari kejauhan. Mereka ingin menolong, tetapi takut pada sifat buas hewan itu.

Kisah sederhana ini membuat kita berpikir. Kadang-kadang, kita pun seperti macan tutul itu. Bukan karena kita buas, tetapi karena akhlak kita membuat orang lain ragu untuk mendekat.

Ada orang yang ketika marah suka membentak. Ada yang mudah menghina. Ada yang gemar membuka aib.

Ada pula yang perkataannya sering menyakiti hati. Akibatnya, ketika suatu hari ia membutuhkan pertolongan, orang-orang memilih menjaga jarak.

Bukan karena mereka tidak peduli. Bisa jadi mereka hanya takut terluka.

Inilah pentingnya akhlak dalam pergaulan. Kebaikan bukan hanya tentang bagaimana kita memperlakukan orang ketika semuanya berjalan sesuai keinginan.

Akhlak terlihat ketika kita sedang marah, kecewa, berbeda pendapat, atau memiliki kekuasaan.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam mengatakan:

"Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling mulia akhlaknya” (HR Bukhari dan Muslim).

Maka, sebelum bertanya, "Mengapa orang-orang menjauh dariku?" mungkin ada pertanyaan yang lebih penting:

"Seperti apa akhlakku ketika mereka berada di dekatku?"

Barakallahu fiikum. (*)

Editor : Agus Pramono
pergaulan AKHLAK