Kegagalan Proyek DAM dan Nestapa Warga Muara Joloi Menghadapi Kemarau

Ricky Nazriel • Dipublikasikan Selasa, 3 November 2026 | 10:00 WIB
Ricky Nazriel
Ricky Nazriel

 

Oleh; Ricky Nazriel

KEMARAU panjang yang menyelimuti Kalimantan Tengah kini menyingkap realitas pahit di Desa Muara Joloi, Kabupaten Murung Raya. Krisis air bersih bukan lagi sekadar ancaman, melainkan krisis nyata yang memaksa warga berjuang memenuhi kebutuhan dasar mereka setiap hari.

Ketergantungan warga terhadap Sungai Barito meningkat tajam setelah sumur-sumur pribadi mereka mengering total.

Meski air sungai tersebut keruh dan tidak layak konsumsi, warga tidak memiliki pilihan lain untuk sekadar mencuci pakaian maupun kebutuhan sanitasi lainnya.

Persoalan menjadi kian pelik ketika warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air bersih dari pemilik slang air yang masih mengalir, seperti di kediaman Bapak Roma dan Bapak Ujer.

Kesenjangan akses air ini menciptakan beban ekonomi baru bagi masyarakat di tengah keterbatasan penghasilan.

Ironisnya, kondisi ini merupakan dampak langsung dari mangkraknya proyek pembangunan bendungan atau DAM di desa tersebut.

Proyek yang seharusnya menjadi solusi permanen bagi kebutuhan air ledeng warga justru kini terbengkalai tanpa kejelasan penyelesaian.

Sebelumnya, warga sangat bergantung pada aliran sungai kecil di hulu kampung yang didistribusikan melalui sistem selang pribadi.

Namun, debit air yang menyusut drastis hingga kering total akibat kemarau panjang tahun ini membuat sistem tersebut lumpuh total.

Pemerintah daerah harus segera turun tangan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek infrastruktur yang terhenti ini.

Menelantarkan proyek air bersih di tengah bencana kekeringan adalah bentuk pengabaian terhadap hak dasar warga atas kesehatan dan kelangsungan hidup.

Solusi jangka pendek berupa pengiriman tangki air bersih menjadi keharusan mendesak yang tidak bisa ditunda lagi.

Selain itu, transparansi mengenai kelanjutan pembangunan DAM harus dibuka agar masyarakat tidak terus menjadi korban dari perencanaan pembangunan yang gagal.(*)

*) Penulis adalah putra asli Muara Joloi dan berprofesi sebagai guru di SMAN 1 Seribu Riam.

Editor : Agus Pramono
muara joloi proyek dam krisis air bersih kemarau kekeringan