PALANGKA RAYA — Universitas Terbuka (UT) Palangka Raya menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan digital yang inklusif di Kalimantan Tengah. Komitmen ini disampaikan dalam seminar bertajuk 'Membangun Ekosistem Digital Pendidikan: Memaksimalkan Peran Diskominfosantik dan UT untuk Program Satu Keluarga, Satu Sarjana”. Kegiatan ini rangkaian Wisuda UT Palangka Raya Periode II Tahun 2025, yang digelar di Kota Palangka Raya, Rabu (8/10).
Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Publik Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfosantik) Provinsi Kalimantan Tengah Erwindy S STP MSi, sebagai narasumber, kemudian Lutfi Faishal Fauzi SE MSi dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, sebagai moderator.
Direktur UT Palangka Raya Hariyadi SP MP, dalam sambutannya menekankan pentingnya percepatan transformasi digital di sektor pendidikan, terutama di wilayah Kalimantan Tengah yang masih menghadapi tantangan kesenjangan akses internet.
"Kami di UT melihat masih ada kesenjangan nyata dalam akses digital di Kalimantan Tengah. Blank spot jaringan tidak hanya di pedalaman, bahkan masih ada di beberapa titik di Palangka Raya. Ini menjadi tantangan besar bagi model pembelajaran jarak jauh yang kami terapkan,” ujar Hariyadi.
Menurutnya, infrastruktur digital yang merata menjadi prasyarat utama agar pendidikan tinggi terbuka dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebab itu, ia menilai kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga pendidikan sangat penting untuk mempercepat pemerataan akses digital.
"Pendidikan jarak jauh tanpa dukungan jaringan internet yang kuat akan sulit berjalan optimal. UT siap menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam membangun infrastruktur dan literasi digital masyarakat,” tambahnya.
Direktur Hariyadi SP MP berharap, hasil seminar tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan berlanjut menjadi langkah konkret.
"Seminar ini kami harapkan menjadi titik awal sinergi nyata antara pemerintah, kampus, dan masyarakat dalam memperkuat literasi digital serta pemerataan akses pendidikan tinggi bagi seluruh keluarga di Kalimantan Tengah,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, narasumber kegiatan, Erwindy, mengungkapkan, sekitar 25 persen wilayah Kalimantan Tengah masih belum terlayani internet. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat sebaran jaringan internet di provinsi ini baru mencapai 75 persen.
"Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita semua. Pembangunan infrastruktur komunikasi tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah pusat. Pemprov Kalteng juga terus berupaya memperluas konektivitas digital hingga ke pelosok desa,” terangnya.
Ia menyebut, sejak era kepemimpinan Gubernur Agustiar Sabran, pemerintah provinsi berkomitmen memperluas akses internet, termasuk dengan penyaluran bantuan perangkat Starlink ke sejumlah desa yang masih mengalami blank spot.
"Starlink kami prioritaskan untuk kantor desa dan pusat kegiatan masyarakat. Tahun depan, jumlah perangkatnya akan ditambah dan dipasang di titik-titik strategis,” ujarnya.
Erwindy juga menilai kehadiran Universitas Terbuka memiliki peran besar dalam mewujudkan visi 'Satu Rumah Satu Sarjana' di Kalimantan Tengah. Ia mengapresiasi sistem pendidikan terbuka yang dinilai efektif menjangkau masyarakat di daerah terpencil.
"UT luar biasa. Saya baru menyadari betapa besar kontribusinya dalam mencerdaskan masyarakat, terutama di wilayah yang sulit menjangkau kampus konvensional. Ini sejalan dengan visi menuju Indonesia Emas 2045,” tuturnya.
Sesi diskusi yang dipandu Luthfi Faishal Fauzi SE Msi juga menjadi wadah bagi mahasiswa UT untuk menyampaikan aspirasi terkait kendala jaringan dan kebutuhan pelatihan literasi digital. Sejumlah peserta mengaku masih kesulitan mengikuti kuliah daring akibat lemahnya sinyal di daerah asal mereka.
Seminar diakhiri dengan penyerahan cenderamata kepada narasumber dan sesi foto bersama para peserta. Kegiatan ini dihadiri 393 calon wisudawan UT dari berbagai kabupaten di Kalimantan Tengah.(kom/uut/ktk/aza)