Inilah Alasan Buku Fisik Tetap Jadi Favorit dan Keluhan Membaca Buku Digital
Dea Umilati• Selasa, 28 April 2026 | 14:30 WIB
Frisella, mahasiswa salah satu kampus di Palangka Raya membaca buku di Perpusatakan Kalteng. Arief Prathama/Kalteng Pos
PALANGKA RAYA–Di era digital yang serba praktis, keberadaan buku elektronik (e-book) memang semakin mendominasi.
Namun di balik kemudahan tersebut, sebagian pembaca masih mempertahankan kebiasaan membaca buku fisik. Ini menjadi bukti bahwa buku cetak belum tamat di tengah gempuran digital.
Khair menjadi salah satu yang menilai bahwa buku cetak memiliki keunggulan tersendiri yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh perangkat digital.
Menurutnya, persoalan utama dari e-book terletak pada manajemen penyimpanan. Ia menggambarkan bagaimana file digital sering kali tenggelam di dalam perangkat, bercampur dengan berbagai dokumen lain seperti foto, video, hingga file pekerjaan.
Terlebih bagi pekerja yang setiap hari berhadapan dengan banyak PDF, kondisi ini justru membuat buku digital mudah terlupakan.
“Sering merasa sudah simpan, tapi pas dicari tidak ketemu. Itu yang bikin tidak efektif,” katanya, Kamis (9/4/2026).
Sebaliknya, buku fisik dinilai jauh lebih sederhana dalam hal pengelolaan. Cukup disusun di rak, buku akan tetap terlihat dan mudah dijangkau kapan saja.
Keberadaannya yang nyata juga membuat pembaca lebih teringat untuk kembali membuka dan melanjutkan bacaan.
Alasan Buku Cetak Masih Diminati
Lebih nyaman untuk mata saat membaca lama
Tidak terpapar cahaya layar digital
Minim distraksi notifikasi media sosial/aplikasi
Tidak bergantung baterai atau internet
Mudah diakses kapan saja
Memiliki nilai koleksi pribadi
Nilai Tambah Buku Cetak
Memberikan pengalaman membaca lebih nyata
Bisa dijadikan koleksi
Memiliki nilai emosional
Menjadi bagian identitas pembaca
Keluhan Membaca E-Book
File sering tertumpuk dengan dokumen lain
Sulit dicari kembali
Mata cepat lelah akibat layar
Rentan terganggu notifikasi
Manfaat Membaca
Menambah kosakata
Memperkaya cara berpikir
Belajar menyusun argumen
Memahami sudut pandang baru
Selain itu, faktor kesehatan menjadi alasan lain yang cukup kuat. Khair menyoroti dampak paparan layar gawai dalam waktu lama yang dapat menyebabkan kelelahan mata.
Cahaya biru dari layar disebut berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan, terutama bagi pembaca yang menghabiskan waktu berjam-jam.
“Kalau baca di HP, mata cepat lelah. Kalau buku fisik, rasanya lebih nyaman dan tidak terlalu menyiksa mata,” ujarnya.
Dari sisi fokus, Khair mengakui bahwa distraksi menjadi tantangan terbesar dalam membaca di era digital.
Notifikasi dari media sosial, pesan instan, hingga berbagai aplikasi lain kerap memecah konsentrasi. Ia menggambarkan situasi sederhana: ketika baru mulai membaca, tiba-tiba muncul notifikasi, dan fokus pun langsung teralihkan.
“Itu jadi PR besar sekarang. Kita belum selesai satu halaman, sudah pindah ke hal lain,” ungkapnya.
Dalam kaitannya dengan proses kreatif sebagai penulis, Khair menilai buku fisik memberikan pengalaman yang lebih mendalam.
Ia mengaku sering menuliskan catatan langsung di pinggir halaman, memberi tanda pada bagian penting, hingga menginterpretasikan isi bacaan secara spontan. Hal ini dinilai sulit dilakukan secara maksimal pada buku digital. “Kalau buku fisik, kita bisa langsung coret, kasih makna, atau tulis pemahaman kita di samping teks. Itu membantu banget,” jelasnya.
Meski begitu, ia tidak menampik bahwa buku digital juga memiliki keunggulan, terutama dari sisi kepraktisan. Pembaca tidak perlu membawa buku tebal ke mana-mana, cukup dengan satu perangkat, berbagai bacaan sudah tersedia. Bahkan, pengalaman membaca novel dalam format digital tetap bisa memberikan kesan yang menarik.(*)