Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Inilah Poin-Poin Penting dari Calon Rektor UPR Natalina Asi saat Paparan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis

rifqi • Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:00 WIB
Dr. Natalina Asi, memaparkan visi besar pengembangan kampus.(Arief Prathama/Kalteng Pos)
Dr. Natalina Asi, memaparkan visi besar pengembangan kampus.(Arief Prathama/Kalteng Pos)

PALANGKA RAYA – Calon Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026-2030, Dr. Natalina Asi, memaparkan visi besar pengembangan kampus yang berorientasi pada inovasi global, penguatan tata kelola yang berintegritas, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam Sosialisasi Visi dan Misi Bakal Calon Rektor UPR di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPR, Kamis (18/6/2026).

Dalam paparannya, Natalina mengusung visi menjadikan UPR sebagai pusat inovasi global yang berintegritas dan berdampak dengan berlandaskan falsafah Huma Betang untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Baca Juga: Berikut Roadmap 4 Tahun dari Calon Rektor UPR Prof Liswara Neneng saat Paparan Visi Misi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis

“Visi yang saya usung adalah menjadikan Universitas Palangka Raya sebagai pusat inovasi global yang berintegritas dan berdampak dengan berasaskan falsafah Huma Betang menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Menurut Natalina, konsep inovasi global dipilih karena Kalimantan Tengah memiliki keunggulan geografis yang dapat menjadi modal besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian. Keberadaan kawasan gambut, hutan tropis, serta kekayaan sumber daya alam dinilai memberikan peluang bagi UPR untuk menjadi pusat riset yang memiliki pengakuan internasional.

“Kenapa harus inovasi global? Karena melalui karya dan inovasi kita bisa menghasilkan sesuatu yang memberi manfaat bagi masyarakat luas. Kenapa harus global? Karena UPR berada di tengah kondisi geografis yang sangat istimewa dan memiliki banyak potensi yang menarik untuk dikembangkan,” katanya.

Mantan Wakil Rektor Bidang Akademik UPR tersebut menilai berbagai potensi daerah harus mampu diterjemahkan menjadi inovasi dan penelitian yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat lokal, tetapi juga memiliki kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Huma Betang Jadi Fondasi Pengembangan Kampus

Selain menekankan pentingnya inovasi, Natalina menempatkan nilai-nilai Huma Betang sebagai fondasi utama dalam membangun universitas. Menurutnya, keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kualitas pemimpin, tetapi juga keterlibatan seluruh elemen kampus dalam mencapai tujuan bersama.

 

Ia menegaskan bahwa setiap individu di lingkungan universitas memiliki peran penting, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga petugas pendukung lainnya.

“Bapak-Ibu tidak bisa membangun UPR hanya dengan kerja seorang pemimpin. Yang dibutuhkan adalah bagaimana pemimpin mampu menggerakkan seluruh lingkungan kampus. Bahkan seorang petugas kebersihan sekalipun harus memahami perannya dan merasa menjadi bagian penting dari kemajuan universitas,” tegasnya.

Menurut Natalina, semangat kebersamaan yang terkandung dalam falsafah Huma Betang menjadi modal penting untuk membangun budaya kerja yang kolaboratif dan inklusif di lingkungan kampus.

Siapkan SDM Hadapi Indonesia Emas 2045

Natalina juga menyoroti tantangan bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia menuju tahun 2045. Ia menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi tinggi dan mampu bersaing di tingkat global.

“Kita akan menghadapi bonus demografi. Tetapi bonus demografi tanpa generasi yang berkualitas tidak akan memiliki arti apa-apa. Kita membutuhkan generasi yang kuat dan hebat, dan itu harus dipersiapkan oleh perguruan tinggi,” katanya.

Karena itu, salah satu fokus program yang ditawarkan adalah transformasi pendidikan tinggi yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan karakter mahasiswa serta kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.

“Mahasiswa yang kita hadapi hari ini berbeda dengan mahasiswa 20 tahun lalu. Lingkungan yang membentuk mereka berbeda dan tantangan yang akan mereka hadapi juga berbeda. Karena itu kita harus menyiapkan sistem pendidikan yang mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut,” ujarnya.

Dorong Hilirisasi Riset dan Inovasi

Di bidang penelitian, Natalina menekankan pentingnya hilirisasi hasil riset agar tidak berhenti pada laporan maupun publikasi ilmiah semata. Menurutnya, penelitian harus mampu memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Selama ini kita sudah banyak menghasilkan penelitian. Tetapi tantangan yang diberikan pemerintah dan masyarakat adalah bagaimana hasil penelitian itu bisa dimanfaatkan. Penelitian tidak boleh berhenti pada kesimpulan. Penelitian harus menjadi jawaban atas persoalan yang dihadapi masyarakat,” tegasnya.

Ia mendorong pengembangan penelitian terapan yang relevan dengan kebutuhan industri, pemerintah, dan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan potensi unggulan Kalimantan Tengah.

“Universitas bukan menara gading yang tidak bisa disentuh masyarakat. Kita harus hadir dan berdampak. Universitas adalah gudangnya orang pintar. Kalau kita memiliki ilmu pengetahuan, maka ilmu itu harus mampu menghasilkan solusi bagi masyarakat,” katanya.

Perkuat Tata Kelola dan Pelayanan Kampus

Selain pendidikan dan riset, Natalina juga menaruh perhatian besar pada tata kelola universitas yang transparan dan akuntabel melalui penerapan prinsip good university governance.

Menurutnya, keterbukaan informasi menjadi kunci dalam membangun kepercayaan serta meningkatkan partisipasi sivitas akademika dalam proses pengembangan universitas.

“Kita membutuhkan tata kelola yang lebih transparan. Sivitas akademika harus mengetahui apa yang sedang dilakukan universitas dan ke mana arah pengembangannya. Transparansi akan memperkuat kepercayaan dan partisipasi seluruh warga kampus,” ujarnya.

Ia juga menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia harus mencakup seluruh unsur kampus, termasuk tenaga kependidikan yang menjadi garda terdepan pelayanan akademik dan administrasi.

“Saya ingin empat tahun ke depan tenaga kependidikan tidak hanya melayani secara administratif, tetapi juga memiliki kompetensi yang terus meningkat. Jika kita ingin menjadi lembaga yang berorientasi pelayanan, maka kemampuan SDM yang memberikan layanan juga harus terus ditingkatkan,” katanya.

Melalui visi dan berbagai program tersebut, Natalina berharap UPR mampu memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi unggulan di Kalimantan sekaligus menjadi pusat inovasi yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah, nasional, hingga internasional.

“Kita ingin UPR menjadi perguruan tinggi yang bukan hanya dikenal karena akademiknya, tetapi juga karena dampak nyata yang diberikan kepada masyarakat. Inovasi, integritas, dan semangat Huma Betang harus menjadi kekuatan utama kita menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
#Natalina Asi #Huma Betang #Indonesia Emas 2045 #rektor #upr