SAMPIT– Poltekkes Kemenkes Palangka Raya melalui Unit Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dengan melaksanakan kegiatan Advokasi Project Investing in Nutrition and Early Years (INEY) Phase II di Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur, Jumat (26/6/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam mendukung percepatan penurunan stunting melalui penguatan intervensi gizi spesifik.
Advokasi diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Kotawaringin Timur. Mulai dari Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapperida), Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB), Dinas Sosial, Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Ketahanan Pangan, Kantor Kementerian Agama, Tim Penggerak PKK Kabupaten Kotawaringin Timur, hingga perwakilan puskesmas lokus pendampingan dan pengelola program kesehatan di lingkungan Dinas Kesehatan.
Dalam kegiatan tersebut, tim Poltekkes Kemenkes Palangka Raya memaparkan hasil analisis situasi intervensi gizi spesifik di Kabupaten Kotawaringin Timur sebagai dasar penyusunan strategi pendampingan pada tahun 2026.
Analisis tersebut menggambarkan kondisi wilayah, capaian program, identifikasi kesenjangan, hingga rekomendasi yang perlu dilakukan untuk meningkatkan efektivitas intervensi gizi spesifik.
Berdasarkan hasil analisis, Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki 17 kecamatan, 185 desa dan kelurahan, 21 puskesmas, 896 sekolah, serta 295 posyandu yang menjadi sasaran pelaksanaan program.
Sasaran utama intervensi meliputi remaja putri, ibu hamil, bayi, baduta, balita, hingga kader kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan di masyarakat.
Selain memaparkan kondisi daerah, tim juga menyampaikan sejumlah indikator intervensi gizi spesifik yang masih memerlukan penguatan. Beberapa di antaranya meliputi skrining anemia pada remaja putri, konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), kepatuhan kunjungan antenatal care (ANC) bagi ibu hamil, pemberian makanan tambahan pada ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK), pemantauan pertumbuhan balita, pemberian ASI eksklusif, pelayanan balita gizi buruk, hingga cakupan imunisasi dasar lengkap.
Melalui forum advokasi tersebut, peserta bersama-sama merumuskan langkah tindak lanjut sebagai upaya memperkuat implementasi intervensi gizi spesifik di Kabupaten Kotawaringin Timur.
Beberapa rekomendasi yang dihasilkan antara lain penguatan skrining anemia berbasis sekolah, supervisi konsumsi Tablet Tambah Darah, peningkatan pendampingan ibu hamil oleh kader, penguatan posyandu, edukasi pemberian MP-ASI, optimalisasi tata laksana balita gizi buruk, hingga pelaksanaan sweeping imunisasi berbasis data sasaran.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Palangka Raya, Dr. Legawati, S.Si.T., M.P.H mengatakan bahwa advokasi menjadi salah satu tahapan penting dalam memastikan pelaksanaan program tidak hanya berfokus pada pencapaian indikator, tetapi juga memperkuat koordinasi lintas sektor.
"Pendampingan melalui INEY Phase II diharapkan mampu memperkuat kapasitas pemerintah daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam melaksanakan intervensi gizi spesifik. Sinergi yang baik antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan percepatan penurunan stunting," ujar Legawati yang juga ketua Tim.
Program INEY Phase II sendiri merupakan bagian dari upaya Kementerian Kesehatan dalam mendukung transformasi layanan primer melalui penguatan pelayanan kesehatan dasar yang berfokus pada upaya promotif dan preventif.
Dalam implementasinya, sebanyak 38 Poltekkes Kemenkes ditugaskan melakukan pendampingan di 80 kabupaten/kota pada 34 provinsi sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat dalam percepatan penurunan stunting.
Melalui kegiatan advokasi ini, Poltekkes Kemenkes Palangka Raya menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pembangunan kesehatan masyarakat melalui pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Diharapkan hasil advokasi dapat menjadi acuan bersama dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor sehingga target percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kotawaringin Timur dapat tercapai secara optimal. (*)
Editor : Ayu Oktaviana