PALANGKA RAYA-Yayasan Pendidikan Melati Ceria Palangka Raya sebagai lembaga pendidikan yang menyelenggarakan layanan pendidikan khusus bagi anak berkebutuhan khusus terus mendukung program-program dari Pemerintah Provinsi Kalteng. Salah satunya dengan menggelar Diklat Implementasi Panduan Praktis Mangajar Anak Autis di Gedung Embarkasi Haji Komplek Islamic Center, Jalan G Obos, Sabtu-Minggu (27-28/6/2026).
Diklat ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kalteng, Muhammad Reza Prabowo, melalui Kabid Pembinaan Pendidikan Khusus (PPK), Roslita. Disampaikannya, Pemprov menaruh perhatian yang sangat besar terhadap perkembangan anak berkebutuhan khusus.
"Kami terus memperkuat komitmen pemerintah daerah dalam menyediakan pendidikan yang inklusif dan berkualitas bagi seluruh masyarakat," terangnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Acara, Andi Hasriandi MPd menyampailan salah satu tujuan dari diklat ini adalah untuk membantu guru-guru di sekolah reguler untuk bisa melakukan assesmen dan interpensi kepada anak-anak autis.
"Peserta tidak hanya mendapatkan teori selama dua hari ini, namun juga banyak praktik yang dilakukan," terangnya.
Ditambahkannya, 53 orang peserta yang hadir berasal dari sejumlah daerah di Kalteng. Di antaranya dari Kotim, Murung Raya, Kobar, Barito Selatan dan beberapa daerah lainnya. Dan mereka bukan hanya dari sekolah khusus tapi juga dari sekolah umum.
Diklat ini menghadirkan dua narasumber yang berkompeten di bidangnta, yakni Instruktur Nasional Kurikulum Pendidikan Khusus, Lilis Lismaya, SPd MSi dan Kepala Sekolah Skh Melati Ceria Palangka Raya, Abdul Jabbar Fathoni SPd Gr MPd.
Kepada Kalteng Pos, Lilis Lismaya mengatakan, di hari pertama peserta akan mendapatkan tentang assesmen untuk anak autis. Ilmu ini didapat dari benchmarking dari Jepang dan Korea Selatan, itu sudah diterapkan di sekolah khusus Melati Ceria, dan banyak sekali manfaatnya.
"Yang berbeda itu adalah pada alur mini compressionnya. Karena di situ melibatkan orang tua anak dari profil anak autis," terangnya.
Kemudian di hari kedua, lanjutnya, mereka akan mendapatkan bagaimana cara intervensi. Ini dilakukan setelah ada hasil assesmen dan profil awal dari anak itu, sehingga intervensi anak autis itu bisa terarah dan terstuktur.
"Jadi peserta nanti mendapatkan penajaman tentang bagaimana autis itu sendiri dan bagaimana penanganannya," tutupnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana