KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Perjuangan warga Pedukuhan Batu Nyangka, Pekon Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Lampung, menghadirkan pendidikan bagi anak-anak di kampungnya benar-benar penuh pengorbanan.
Jauh sebelum memiliki bangunan sekolah, anak-anak di wilayah terpencil itu harus belajar berpindah-pindah di rumah warga karena belum tersedia sekolah dasar yang layak.
Sulitnya akses menuju sekolah di daerah lain membuat masyarakat khawatir anak-anak kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan. Berangkat dari kondisi tersebut, warga akhirnya berinisiatif membangun sekolah secara mandiri dengan mengandalkan hasil gotong royong dan iuran masyarakat.
Mayoritas warga yang berprofesi sebagai petani kemudian menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli sebidang tanah yang akan dijadikan lokasi sekolah. Meski kondisi ekonomi terbatas, tekad mereka tak surut demi memastikan generasi di kampung itu tetap bisa bersekolah.
Tokoh masyarakat Batu Nyangka, Junaidi, mengatakan lahan sekolah dibeli melalui hasil patungan seluruh warga sebelum akhirnya diserahkan kepada pemerintah.
“Dulu tanahnya dibeli dari warga, kami patungan. Harganya waktu itu sekitar Rp1.500.000. Setelah itu dibuatkan surat, lalu dihibahkan kepada pemerintah,” kata Junaidi, mengutip Kumparan, Selasa (14/7/2026).
Setelah lahan tersedia, warga kembali bergotong royong membangun ruang belajar dengan bahan-bahan yang tersedia di sekitar desa. Bangunan pertama sekolah itu sangat sederhana karena hanya memanfaatkan kayu dan daun sebagai material utama.
“Bangunannya dulu beratap nipah, tiangnya dari kayu bulat hasil gotong royong masyarakat,” ungkapnya.
Sekolah yang berdiri sekitar tahun 2000 itu memulai kegiatan belajar dengan jumlah murid yang sangat sedikit. Meski demikian, warga tetap mempertahankan keberadaan sekolah tersebut agar anak-anak tidak lagi harus belajar berpindah-pindah.
“Dulu ada enam anak,” ujar Junaidi.
Seiring bertambahnya jumlah peserta didik, masyarakat kembali mengumpulkan biaya untuk memperbaiki bangunan. Atap daun kemudian diganti dengan seng agar ruang kelas lebih tahan terhadap cuaca, meski saat siang hari ruangan masih terasa sangat panas karena belum memiliki plafon.
Perjuangan warga tidak berhenti pada pembangunan gedung. Mereka juga harus mencari guru yang bersedia mengajar di daerah terpencil tersebut. Karena belum ada guru tetap, masyarakat mendatangkan tenaga pengajar dari luar desa dan membayar gajinya menggunakan iuran warga.
“Dulu gurunya dari Gunungsari, ada dua orang. Kami yang membayar gajinya. Waktu itu sekitar Rp 100 ribu per bulan,” katanya.
Salah seorang guru yang pernah mengabdikan diri di sekolah tersebut, Hayani, mulai mengajar pada 2006. Ia masih mengingat kondisi sekolah yang menurutnya sangat memprihatinkan ketika pertama kali datang.
“Dulu miris sekali. Sekolahnya masih berdinding papan, atapnya juga masih daun,” ujarnya.
Meski fasilitas serba terbatas, jumlah siswa terus bertambah hingga mencapai sekitar 20 sampai 25 orang. Semangat belajar anak-anak tetap tinggi walaupun buku pelajaran yang tersedia sebagian besar sudah usang dan rusak.
“Masih ada buku-buku zaman dulu, walaupun sudah sobek-sobek,” ucapnya.
Hayani kemudian kembali diminta mengajar setelah menggantikan guru sebelumnya. Baginya, semangat anak-anak menjadi alasan utama untuk terus bertahan mengabdi di sekolah tersebut.
“Senang sekali. Jadi semangat kami tumbuh lagi, anak-anak juga ikut semangat belajar,” katanya.
Namun menurutnya, proses belajar mengajar masih menghadapi banyak keterbatasan. Selain kekurangan buku pelajaran, akses internet di kawasan itu hampir tidak tersedia sehingga siswa kesulitan memperoleh tambahan materi pembelajaran.
“Yang paling dibutuhkan itu buku dan internet. Di sini susah mendapatkan sinyal, padahal internet penting untuk menambah wawasan anak-anak,” jelasnya.
Ia berharap sekolah tersebut juga mendapatkan bantuan sarana pembelajaran modern agar kualitas pendidikan semakin meningkat.
“Kalau bisa ada proyektor juga. Buku-buku masih kurang. Kemarin saya membawa satu kardus buku, tetapi tetap belum cukup,” ujarnya.
Hayani berharap SDN 1 Tanjung Raja Kelas Jauh terus berkembang hingga memiliki guru yang menetap, sehingga para siswa tidak lagi harus berpindah ke sekolah induk untuk menyelesaikan pendidikan dasar mereka.
Selain pendidikan, warga juga berharap perhatian pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur di Pedukuhan Batu Nyangka. Jalan menuju permukiman masih menjadi hambatan utama, terutama saat musim hujan karena berubah licin dan membahayakan anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah.
“Kalau hujan, jalannya licin. Kadang anak-anak tidak berangkat sekolah karena takut,” ujarnya.
Hingga kini, wilayah tersebut juga belum menikmati aliran listrik. Kondisi itu dinilai semakin memperberat aktivitas belajar masyarakat pada malam hari.
“Sejak saya masuk ke sini pada 2005 sampai sekarang masih gelap,” ungkapnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana