AI Memudahkan Guru, Tapi Bisa Menggerus Daya Kritis dan Literasi Siswa

Dea Umilati • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 11:00 WIB
Guru kini harus bersaing dengan AI.(Ilustrasi)
Guru kini harus bersaing dengan AI.(Ilustrasi)

PALANGKA RAYA– Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan menjadi fenomena yang tidak bisa dihindari. Di satu sisi teknologi ini memberikan kemudahan luar biasa bagi tenaga pendidik, namun di sisi lain memunculkan tantangan serius terhadap kemampuan literasi, berpikir kritis, hingga kebiasaan membaca siswa.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Pengembangan SDM SMA Negeri 2 Palangka Raya sekaligus Guru Biologi, Helita, saat berbincang mengenai dampak penggunaan AI di lingkungan sekolah. Menurutnya, perkembangan teknologi yang begitu cepat telah mengubah cara belajar peserta didik secara signifikan. 

Baca Juga: Kadisdik Kalteng: AI Jadi Peluang Sekaligus Tantangan, Guru Harus Selangkah Lebih Maju dari Siswa

Ia menilai, penggunaan AI yang tidak dibarengi dengan kemampuan menyaring informasi justru membuat siswa semakin bergantung pada teknologi. Banyak peserta didik yang memilih jawaban instan dibandingkan mencari referensi dari buku maupun sumber ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Yang paling terasa adalah kemampuan literasi anak-anak menurun. Mereka cenderung langsung mengambil jawaban dari AI tanpa menelusuri kembali apakah informasi itu benar, tanpa membaca literatur pendukung, bahkan tidak lagi memahami proses mendapatkan sebuah pengetahuan. Yang penting tugas selesai," ujarnya, Senin (20/7/2026). 

Helita mengatakan, kondisi tersebut sangat berbeda dengan pola belajar beberapa tahun lalu ketika siswa masih terbiasa mencari referensi dari buku, membaca berbagai sumber, kemudian menyusun pemahaman sendiri sebelum menyelesaikan tugas.

Menurutnya, kebiasaan membaca itulah yang perlahan mulai berkurang akibat kemudahan teknologi digital.

Meski demikian, ia menegaskan AI bukanlah sesuatu yang harus ditolak sepenuhnya. Justru bagi guru, teknologi tersebut sangat membantu meningkatkan efisiensi pekerjaan, selama digunakan secara bijak dan tetap mengacu pada sumber-sumber terpercaya.

Ia mencontohkan, penyusunan modul ajar yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari bahkan hingga satu minggu, kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit dengan bantuan AI. Namun, proses tersebut tetap diawali dengan memasukkan referensi dan literatur yang valid agar hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan.

"AI itu membantu guru bekerja lebih cepat. Tetapi tetap harus diberikan literatur yang benar. Guru harus memilih mana informasi yang layak digunakan dan mana yang tidak. Jadi AI hanya alat bantu, bukan sumber utama," jelasnya. 

Untuk peserta didik, lanjut Helita, penggunaan AI masih diperbolehkan dalam batas tertentu, terutama ketika mereka membutuhkan tambahan referensi dalam menyusun proyek pembelajaran berbasis analisis dan sintesis.

Sebagai contoh pada mata pelajaran Biologi, siswa diperbolehkan memanfaatkan AI untuk mencari informasi tambahan mengenai keanekaragaman hayati maupun penerapan materi pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Namun penggunaan tersebut harus tetap dibimbing oleh guru agar tidak sekadar menyalin hasil yang diberikan AI.  

Selain membimbing siswa, SMA Negeri 2 Palangka Raya juga aktif meningkatkan kapasitas guru dalam menghadapi perkembangan teknologi. Helita mengungkapkan pihak sekolah telah beberapa kali mengikuti bimbingan teknis mengenai pembelajaran mendalam (deep learning), kecerdasan artifisial, hingga pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan.

Bahkan sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Pengembangan SDM, dirinya juga menginisiasi pelatihan internal bagi para guru agar memahami manfaat sekaligus risiko penggunaan AI.

"Kami mengenalkan kepada guru sisi positif dan sisi negatif AI. Guru harus memahami bagaimana menggunakan AI secara benar, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi," katanya. 

Sementara itu, untuk membatasi ketergantungan siswa terhadap AI dan telepon genggam, sekolah mulai menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan ponsel selama proses belajar mengajar.

Helita mengatakan, sebelum kegiatan belajar dimulai, siswa diminta menyimpan telepon genggam mereka di tempat khusus yang telah disediakan sekolah. HP hanya boleh digunakan pada waktu istirahat atau jika memang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran atas izin guru.

Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi pemerintah mengenai pembatasan penggunaan telepon genggam di lingkungan sekolah yang saat ini sedang diproses lebih lanjut melalui surat edaran kepada orang tua siswa. 

Menurutnya, secara kesiapan sebenarnya dunia pendidikan di Kalimantan Tengah telah mampu menerima perkembangan AI. Namun yang menjadi tantangan terbesar adalah bagaimana mengatur pola penggunaannya agar tidak menghilangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

"Kalau orang dewasa menggunakan AI, biasanya tetap menganalisis lagi hasilnya. Tetapi anak-anak berbeda. Mereka berpikir tugas cepat selesai tanpa menguji kembali apakah jawaban itu benar atau tidak. Di situlah tantangannya," ujarnya. 

Ia bahkan mengaku lebih nyaman membaca buku fisik dibandingkan sumber digital. Menurutnya, membaca melalui gawai sering kali membuat seseorang mudah terdistraksi oleh berbagai aplikasi lain sehingga fokus belajar menjadi berkurang.

Karena alasan tersebut, SMA Negeri 2 Palangka Raya terus mendorong budaya membaca buku dan membatasi penggunaan gawai selama jam pelajaran agar konsentrasi siswa tetap terjaga. 

Tidak hanya itu, sekolah juga menjalankan program penguatan literasi tulis yang telah berlangsung selama sekitar satu tahun. Program tersebut mewajibkan siswa meluangkan waktu sekitar 45 menit setiap pekan untuk latihan menulis tangan, khususnya tulisan indah.

Hasil tulisan siswa kemudian dinilai, dirata-ratakan, dan diberikan penghargaan setiap tiga bulan bagi peserta didik yang menunjukkan perkembangan terbaik. Seluruh kebutuhan pembelajaran, mulai dari buku tulis khusus, pensil, penghapus hingga lembar kerja peserta didik (LKPD), disiapkan oleh sekolah.

Helita mengungkapkan hasilnya cukup menggembirakan. Kemampuan menulis siswa mengalami peningkatan secara bertahap, begitu pula dengan ketelitian, kerapian, serta kesabaran mereka dalam belajar.

"Awalnya tulisan mereka memang belum bagus. Tetapi karena dilakukan terus-menerus dan konsisten, hasilnya meningkat. Anak-anak juga menjadi termotivasi karena ada penghargaan. Kami ingin literasi mereka tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi tetap dibangun melalui kebiasaan membaca dan menulis," ungkapnya. 

Ia berharap budaya literasi berbasis buku tetap dipertahankan di tengah derasnya perkembangan teknologi AI. Menurutnya, kemampuan membaca, menulis, menganalisis informasi, serta berpikir kritis merupakan fondasi utama yang tidak boleh tergantikan oleh kecanggihan teknologi.

"AI boleh digunakan sebagai alat bantu. Tetapi kemampuan berpikir manusia tidak boleh hilang. Anak-anak tetap harus dibiasakan membaca buku, mencari sumber yang benar, kemudian menganalisis sendiri. Itu yang akan membentuk kualitas mereka di masa depan," pungkasnya.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
berpikir kritis budaya literasi SMA Negeri 2 Palangka Raya teknologi artificial intelligence (AI)