Siswa SMKN 3 Palangka Raya: AI Membantu Belajar Kuliner, tapi Jangan Jadi Pengganti Kemampuan Sendiri

rifqi • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:40 WIB
Ilustrasi penggunaan ChatGPT. Ayu/kaltengpos.jawapos.com
Ilustrasi penggunaan ChatGPT. Ayu/kaltengpos.jawapos.com

 

PALANGKA RAYA – Kehadiran Artificial Intelligence (AI) semakin banyak dimanfaatkan pelajar sebagai penunjang proses belajar. Bagi siswa jurusan kuliner, teknologi tersebut dinilai mampu membantu memahami teknik memasak hingga menyelesaikan persoalan yang dihadapi saat praktik, baik di sekolah maupun saat menjalani magang.

Siswa kelas XII SMKN 3 Palangka Raya Jurusan Kuliner, Muhammad Ali, mengatakan AI telah menjadi salah satu referensi yang membantunya selama menjalani praktik kerja lapangan di Swiss-Belhotel Danum Palangka Raya.

Baca Juga: AI Memudahkan Guru, Tapi Bisa Menggerus Daya Kritis dan Literasi Siswa

“Kalau dibilang berguna kurang tepat sih, Mas, tapi sangat membantu, terutama saya di bidang kuliner. Misalnya saat saya magang di Swiss-Belhotel Danum Palangka Raya, kerjaan saya di kitchen sebagai asisten chef,” ujarnya, Rabu (22/7).

Menurut Ali, ketika mengalami kesulitan memahami penggunaan bumbu maupun teknik memasak, ia tidak hanya bertanya kepada chef pembimbing, tetapi juga memanfaatkan AI sebagai sumber referensi tambahan.

“Ketika saya bingung dalam penggunaan bumbu atau bahan masakan, saya tidak hanya menanyakan kepada chef saya saja, tapi juga saya bisa tanyakan ke AI. AI yang saya gunakan adalah ChatGPT. Tentu itu sangat membantu karena memberikan beberapa masukan, saran, maupun teknik memasak,” katanya.

Ia mencontohkan pengalamannya saat diminta membuat scrambled egg. Setelah beberapa kali gagal saat berlatih di rumah, ia mencoba mencari penjelasan mengenai teknik memasak dan penggunaan wajan melalui AI.

“Sebagai contoh, saya diminta masak scrambled egg. Beberapa kali saya coba di rumah susah, lalu saya tanyakan teknik dan penggunaan wajan seperti apa. Ternyata hasilnya hampir berhasil, ditambah konsultasi dengan chef saya, akhirnya saya bisa memasak scrambled egg,” ungkapnya.

Baca Juga: Kadisdik Kalteng: AI Jadi Peluang Sekaligus Tantangan, Guru Harus Selangkah Lebih Maju dari Siswa

Meski demikian, Ali menilai penggunaan AI juga harus disikapi secara bijak. Menurutnya, anggapan bahwa AI membuat siswa menjadi malas tidak sepenuhnya benar karena semuanya bergantung pada cara pengguna memanfaatkannya.

“Kalau dibilang AI membuat malas para siswa, sebenarnya itu bergantung pada penggunaannya. Bisa terlihat dari siswa yang menggunakan AI dengan prompt biasa saja, jawabannya pasti berbeda dengan prompt yang lebih baik. Jadi semuanya bergantung pada penggunanya,” jelasnya.

Ia mengingatkan agar AI dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir dan kreativitas siswa.

“Menurut saya gunakan AI sebaik-baiknya sebagai pembantu, bukan pemain utama. Karena kita sebagai siswa juga perlu wawasan. Dengan menggunakan AI sebagai pembantu, kita juga sekalian mengevaluasi diri kita sendiri,” pungkasnya.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
SMKN 3 Palangka Raya artificial intelligence (AI) ChatGPT