Sereal STAR Berbahan Kelakai dan Jelei Kalteng Raih Medali Emas di Thailand, Diklaim Ampuh Cegah Stunting

Agus Pramono • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 07:48 WIB
2 pelajar asal Kalteng turut andil dalam raihan medali emas di ajang internasional di Thailand.(Dok pribadi)
2 pelajar asal Kalteng turut andil dalam raihan medali emas di ajang internasional di Thailand.(Dok pribadi)

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Inovasi pangan fungsional berbahan tanaman lokal Kalimantan Tengah kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

 Tim peneliti muda lintas sekolah berhasil meraih Medali Emas (Gold Medal) kategori Life Science pada ajang Thailand International Science, Invention, and Innovation Fair (TISIIF) 2026 berkat inovasi Sereal STAR, produk superfood yang dikembangkan untuk membantu mencegah stunting serta meningkatkan kualitas gizi ibu hamil dan menyusui.

Kompetisi yang berlangsung pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Diamond Hall, Pathum Thani, Thailand tersebut diikuti ratusan inovator dari berbagai negara.

Baca Juga: Pelajar Kalteng Sabet 3 Emas di ISIF 2025: Ciptakan Teh Anti-Ambeien dari Kulit Sentul

Tim peneliti terdiri atas Jihan Khansa Adzkiya Helga dari SMA Insan Cendekia Madani, Kezia Larasati Wijayanto dari SMAS Golden Christian School Palangka Raya, dan Ekklesia Sharon Perwira Hadi dari SMAK BPK Penabur Bandar Lampung. Penelitian ini dibimbing oleh supervisor Arbendi I. Tue.

Keunggulan utama Sereal STAR terletak pada pemanfaatan kekayaan hayati dan kearifan lokal Kalimantan Tengah sebagai bahan baku utama.

Produk ini menggunakan daun kelakai yang kaya zat besi serta biji jelei, tanaman khas yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan aksesori pakaian adat Dayak. 

Kedua bahan tersebut dipadukan dengan daun katuk, daun kelor, serta ekstrak protein ikan lele untuk menghasilkan pangan fungsional dengan kandungan gizi tinggi.

Formulasi tersebut dirancang agar mampu memenuhi kebutuhan zat gizi makro maupun mikro sekaligus tetap memiliki biaya produksi yang terjangkau.

Klaim Tingkatkan Produksi ASI dan Hemoglobin

Berdasarkan formulasi yang dikembangkan, setiap sajian 20 gram Sereal STAR mengandung sekitar 2,45 miligram zat besi alami dan 14,80 mikrogram asam folat.

Tim peneliti juga menyampaikan bahwa berdasarkan uji coba terbatas selama 30 hari terhadap 10 ibu menyusui, konsumsi Sereal STAR menunjukkan peningkatan rata-rata produksi ASI dari 450 mililiter menjadi 780 mililiter per hari atau sekitar 73,3 persen.

Selain itu, hasil uji yang disampaikan tim juga menunjukkan peningkatan kadar protein ASI sebesar 44,4 persen serta kenaikan kadar hemoglobin ibu hingga 2,2 gram per desiliter, yang dinilai berpotensi membantu menekan risiko anemia pascamelahirkan.

Angkat Potensi Tanaman Lokal ke Tingkat Dunia

Perwakilan tim peneliti, Jihan Khansa Adzkiya Helga, mengatakan penghargaan internasional tersebut menjadi bukti bahwa riset berbasis tanaman lokal Kalimantan Tengah mampu memberikan solusi terhadap persoalan kesehatan global, termasuk stunting.

 

"Sereal STAR dirancang agar tidak hanya memiliki kandungan nutrisi yang tinggi secara ilmiah, tetapi juga tetap terjangkau sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat luas," ujarnya.

Sementara itu, Kezia Larasati Wijayanto menilai penggunaan daun kelakai dan biji jelei membuktikan bahwa kekayaan hayati Kalimantan Tengah memiliki potensi ilmiah yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Menurutnya, selama ini biji jelei lebih banyak dimanfaatkan sebagai aksesori pakaian adat, padahal memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan pangan bernilai tambah.

Di sisi lain, Ekklesia Sharon Perwira Hadi menjelaskan biaya produksi Sereal STAR relatif murah, yakni sekitar Rp2.079 per sachet, sehingga diharapkan dapat dijangkau masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Harapkan Dukungan Pemerintah

Atas keberhasilan tersebut, tim peneliti bersama supervisor Arbendi I. Tue berharap pemerintah memberikan dukungan agar inovasi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut.

Dukungan yang diharapkan meliputi percepatan proses legalitas, sertifikasi halal, hak paten, hingga izin edar agar Sereal STAR dapat diproduksi secara massal.

Selain itu, mereka juga berharap produk tersebut dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari program intervensi gizi nasional dalam upaya percepatan penurunan angka stunting, sekaligus mendorong pengembangan budidaya tanaman lokal Kalimantan Tengah seperti kelakai dan jelei sebagai bahan baku industri pangan fungsional.

Supervisor tim, Arbendi I. Tue, berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai karya kompetisi semata.

"Kami berharap Sereal STAR dapat masuk ke rantai pasok pangan nasional sehingga kekayaan alam Kalimantan Tengah benar-benar memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas gizi masyarakat dan mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia yang bebas stunting," pungkasnya.(*)

Editor : Agus Pramono
sereal star pelajar kalteng tisiif 2026 manfaat kelakai life science