SMAS Golden Christian School Palangka Raya Bangga Siswinya Raih Emas di Ajang TISIIF 2026

Agus Pramono • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 19:51 WIB
Kezia Larasati Wijayanto, siswi SMAS Golden Christian School Palangka Raya (Kanan) meraih emas ajang TISIIF 2026
Kezia Larasati Wijayanto, siswi SMAS Golden Christian School Palangka Raya (Kanan) meraih emas ajang TISIIF 2026

 

PALANGKA RAYA – Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan Kalimantan Tengah. Kezia Larasati Wijayanto, siswi SMAS Golden Christian School Palangka Raya, bersama tim peneliti muda Indonesia berhasil meraih Medali Emas (Gold Medal) dalam kategori Life Science pada ajang Thailand International Science, Invention, and Innovation Fair (TISIIF) 2026.

Kompetisi inovasi internasional tersebut berlangsung pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Diamond Hall, Pathum Thani, Thailand. Ajang tersebut diikuti ratusan inovator dari berbagai negara.

Kezia tergabung dalam tim lintas sekolah bersama Jihan Khansa Adzkiya Helga dari SMA Insan Cendekia Madani dan Ekklesia Sharon Perwira Hadi dari SMAK BPK Penabur Bandar Lampung. Tim tersebut berada di bawah bimbingan supervisor Arbendi I. Tue.

Kepala SMAS Golden Christian School, Putu Rusmiati Dewi SPdK, menyampaikan kebanggaannya atas capaian yang diraih Kezia bersama tim.

Menurutnya, prestasi tersebut merupakan hasil dari proses pembinaan, kerja keras, serta konsistensi Kezia dalam mengembangkan kemampuan akademik dan riset selama menempuh pendidikan.

“Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi seluruh keluarga besar SMAS Golden Christian School. Kezia membuktikan bahwa dengan ketekunan, kreativitas, dan keberanian melakukan riset, peserta didik dari Kalimantan Tengah mampu bersaing dan meraih pengakuan di tingkat internasional,” ujar Putu.

Ia berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi motivasi bagi siswa lain untuk terus berkarya dan berani mengembangkan potensi daerah menjadi inovasi yang memiliki nilai lebih.

Kezia sendiri diketahui aktif mengikuti berbagai kompetisi akademik dan penelitian sejak duduk di kelas X. Kepeduliannya terhadap persoalan gizi masyarakat kemudian mendorongnya terlibat dalam pengembangan inovasi STAR Cereal dengan mengangkat potensi tanaman lokal Kalteng.

Putu menambahkan, pihak sekolah akan terus memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan riset, inovasi, dan kepemimpinan.

“Kami percaya pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Prestasi Kezia menjadi bukti bahwa potensi daerah dapat diangkat menjadi inovasi yang diakui dunia melalui dedikasi, kerja keras, dan kolaborasi,” pungkasnya.

Keberhasilan Kezia bersama tim di TISIIF 2026 sekaligus menunjukkan bahwa kekayaan hayati dan kearifan lokal Kalimantan Tengah memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bagian dari inovasi ilmiah yang mampu bersaing di tingkat internasional

Angkat Kelakai dan Jelei dari Kalteng

Salah satu keunggulan STAR Cereal terletak pada pemanfaatan bahan pangan lokal yang selama ini belum banyak dikembangkan sebagai produk pangan fungsional.

Tim memanfaatkan daun kelakai yang dikenal memiliki kandungan zat besi, serta biji jelei, tanaman yang selama ini juga dikenal dalam budaya masyarakat Dayak Kalimantan Tengah dan antara lain dimanfaatkan sebagai aksesori pakaian adat.

Kedua bahan tersebut kemudian dipadukan dengan daun katuk, daun kelor, serta ekstrak protein ikan lele melalui formulasi yang dikembangkan secara ilmiah.

Kombinasi tersebut menghasilkan produk pangan padat gizi yang dikembangkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi, khususnya dalam upaya pencegahan stunting serta peningkatan kualitas nutrisi ibu hamil dan menyusui.

Berdasarkan formulasi dan pengujian yang dilakukan tim, setiap porsi 20 gram Sereal STAR mengandung sejumlah zat gizi makro dan mikro, termasuk 2,45 miligram zat besi alami dan 14,80 mikrogram asam folat.

Hasil Uji Terbatas Tunjukkan Potensi

Tim juga melakukan pengujian klinis terbatas selama 30 hari dengan melibatkan 10 responden ibu menyusui.

Dalam pengujian tersebut, intervensi Sereal STAR dilaporkan berkaitan dengan peningkatan volume produksi air susu ibu (ASI) dari rata-rata 450 mililiter menjadi 780 mililiter per hari, atau sekitar 73,3 persen.

Selain itu, pengujian juga mencatat peningkatan kadar protein ASI sebesar 44,4 persen serta kenaikan kadar hemoglobin ibu hingga 2,2 gram per desiliter.

Hasil tersebut menjadi bagian dari data penelitian yang mendukung pengembangan Sereal STAR sebagai inovasi pangan fungsional. Namun, karena pengujiannya masih terbatas, hasil tersebut perlu ditafsirkan secara hati-hati dan tidak serta-merta menjadi bukti efektivitas klinis untuk populasi yang lebih luas.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
sereal star tisiif 2026 Kezia Larasati Wijayanto SMAS Golden Christian School inovasi pangan