PALANGKA RAYA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa SMAN 2 Palangka Raya di ajang Thailand International Science, Invention and Innovation Fair (TISIIF) 2026 yang berlangsung pada 30 Juli–2 Agustus 2026 di Thailand.
Tim peneliti sekolah tersebut sukses meraih medali emas melalui karya ilmiah berjudul “The Relevance of Dayak Customary Law in Modern Society”, yang mengangkat eksistensi hukum adat Dayak di tengah kehidupan masyarakat modern.
Tim peneliti terdiri atas Adrian Goldy selaku ketua tim, bersama Bernardius Dio Rafael, Joyce Bralia Karlonius Antel, Citrha Lestari, dan Julian Khaila.
Kelima siswa tersebut didampingi guru pembimbing Sintania TT Asang SPd MPd serta guru pendamping Berkhat SPd. Mereka berhasil meyakinkan dewan juri internasional melalui penelitian yang menunjukkan bahwa hukum adat Dayak masih memiliki peran penting sebagai pedoman moral, penyelesaian sengketa, penjaga harmoni sosial, sekaligus pelestari identitas budaya masyarakat di era modern.
Baca Juga: SMAS Golden Christian School Palangka Raya Bangga Siswinya Raih Emas di Ajang TISIIF 2026
Ketua tim, Adrian Goldy, mengatakan penelitian tersebut berangkat dari keinginan untuk memperkenalkan budaya lokal Kalimantan Tengah kepada dunia melalui pendekatan ilmiah.
“Kami ingin dunia mengetahui bahwa hukum adat masih hidup dan memiliki peran nyata dalam kehidupan modern. Budaya lokal bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga tetap relevan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Adrian menuturkan, proses penelitian dilakukan melalui wawancara dengan Damang, Mantir Adat, serta akademisi hukum agar data yang diperoleh benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan.
Dari proses tersebut, tim belajar bahwa penelitian tidak hanya mengandalkan teori, tetapi juga harus memahami pengalaman masyarakat yang menjalankan nilai-nilai adat dalam kehidupan sehari-hari.
Guru pembimbing Sintania TT Asang SPd MPd didampingi Berkhat SPd menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja keras, diskusi, revisi, hingga latihan presentasi yang dilakukan secara intensif.
Menurut Sintania, pemilihan tema hukum adat Dayak menjadi kekuatan utama karena mengangkat identitas lokal melalui metode penelitian yang ilmiah dan mampu diterima di forum internasional.
“Saya berharap prestasi ini menjadi motivasi bagi siswa lain agar berani melakukan penelitian yang berangkat dari persoalan nyata di daerahnya,” katanya.
Prestasi tim SMAN 2 Palangka Raya semakin lengkap karena salah satu anggotanya, Joyce Bralia Karlonius Antel, juga dipercaya mewakili Indonesia membawakan tarian adat Dayak pada upacara pembukaan TISIIF 2026.
Penampilan tersebut mendapat sambutan hangat dari peserta berbagai negara dan menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan Tengah di panggung internasional.(*)
Editor : Ayu Oktaviana