Juara Nasional LCC 4 Pilar MPR RI, 10 Siswa SMAN 2 Katingan Kuala Ternyata Anak Petani

Agus Pramono • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 13:00 WIB
Siswa-siswi SMAN 2 Katingan Kuala saat mengasah kemampuan lewat tim pembimbing.(Dok SMAN 2 Katingan Kuala)
Siswa-siswi SMAN 2 Katingan Kuala saat mengasah kemampuan lewat tim pembimbing.(Dok SMAN 2 Katingan Kuala)

 

KASONGAN-Prestasi membanggakan ditorehkan SMAN 2 Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Sebanyak 10 siswa sekolah tersebut berhasil membawa pulang gelar juara nasional Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI 2026.

Di balik prestasi tersebut, tersimpan kisah perjuangan para siswa yang berasal dari keluarga sederhana. 10 siswa yang tergabung dalam satu tim itu diketahui merupakan anak-anak petani.

Baca Juga: Kepala SMAN 2 Katingan Kuala Ceritakan Perjuangan Siswanya Bisa Juara LCC 4 Pilar MPR RI 2026

Kepala SMAN 2 Katingan Kuala Sumanto mengatakan, latar belakang ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang bagi para siswa untuk mengembangkan potensi dan meraih prestasi.

“10 anak didik saya yang ikut lomba, semuanya anak petani, tidak ada anak pejabat,” ujar Sumanto kepada kaltengpos.jawapos.com, Kamis (27/6/2026).

Menurutnya, para siswa memiliki potensi besar yang perlu terus digali dan dikembangkan melalui pembinaan. 

Sekolah berupaya memberikan ruang agar bakat mereka dapat berkembang dan menghasilkan prestasi.

“Mereka punya potensi. Kami menggali, membimbing, dan mendorong bisa berkarya,” tambahnya.

Baca Juga: SMAN 2 Katingan Kuala Juara Nasional Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI

Prestasi tersebut kemudian mendapat perhatian dan apresiasi dari masyarakat di media sosial. Sejumlah netizen menyoroti keberhasilan siswa SMAN 2 Katingan Kuala yang mampu mengukir prestasi nasional meski berasal dari daerah pelosok dengan berbagai keterbatasan.

Salah satunya, akun Facebook Haji Haryadi Swz Adi, menyebut sebagian besar siswa SMAN 2 Katingan Kuala merupakan anak-anak dari ekspermukiman transmigrasi.

“90 persen siswa-siswi SMAN 2 Katingan Kuala adalah anak-anak eks permukiman transmigrasi,” tulisnya dalam komentar di media sosial.

Ia juga menggambarkan keseharian masyarakat setempat yang cukup dekat dengan hasil pertanian, termasuk padi dan ubi sebagai salah satu sumber pangan.

Baca Juga: Profil SMAN 2 Katingan Kuala, Sekolah Pedalaman yang Buktikan Bisa Berprestasi Tingkat Nasional

Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para siswa untuk bersekolah dan berprestasi. Tantangan lain yang mereka hadapi adalah akses menuju wilayah Katingan Kuala yang masih terbatas.

Menurut Haji Haryadi, para pelajar harus menghadapi kondisi jalan yang berlumpur dan berlubang dalam perjalanan mereka.

Ia berharap prestasi yang ditorehkan siswa SMAN 2 Katingan Kuala dapat menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan infrastruktur dan akses transportasi menuju wilayah tersebut.

Apresiasi serupa disampaikan netizen lainnya, Dwie Prayitno. Ia mengingatkan bahwa SMAN 2 Katingan Kuala berada di wilayah pelosok yang jauh dari pusat kota dan memiliki keterbatasan akses jalan darat.

“SMAN Katingan Kuala berada di pelosok desa, jauh dari kota dan tak ada akses jalan darat,” tulisnya.

Sementara itu, akun Siswadi Ja menyoroti potensi besar Kecamatan Katingan Kuala, baik dari sisi pendidikan maupun pertanian.

Ia menyebut wilayah tersebut telah melahirkan berbagai prestasi pendidikan di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. 
Di sektor pertanian, Katingan Kuala juga dikenal memiliki potensi besar sebagai salah satu kawasan penghasil padi.

Namun, menurutnya, potensi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan pemerataan pembangunan dan infrastruktur.

Ia menyinggung persoalan Sungai Hantipan yang dinilai masih menjadi persoalan mendasar bagi masyarakat Kecamatan Katingan Kuala dan Mendawai.

Deretan komentar tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan siswa SMAN 2 Katingan Kuala tidak hanya menjadi kebanggaan sekolah dan Kabupaten Katingan, tetapi juga membuka kembali perhatian publik terhadap kondisi pendidikan dan akses pembangunan di wilayah pelosok.

Prestasi 10 anak petani tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa keterbatasan geografis dan latar belakang keluarga bukan penghalang untuk bersaing di tingkat nasional. 

Dengan pembinaan dan kesempatan yang tepat, potensi siswa dari daerah pelosok pun mampu mengharumkan nama Kalimantan Tengah di kancah nasional.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
sman 2 katingan kuala Kecamatan Katingan Kuala keterbatasan geografis infrastruktur transmigrasi