PALANGKA RAYA-Program pengembangan peternakan itik di Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, kini menjadi sorotan.
Kandang dan fasilitas budidaya itik yang sempat dikunjungi Presiden Joko Widodo saat meninjau kawasan Food Estate itu kini terbengkalai, setelah tidak lagi dikelola Kelompok Tani Ternak Jaya Makmur.
Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Kalteng, Leonard S. Ampung, menegaskan bahwa pemerintah daerah akan menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi penting. Menurutnya, mekanisme yang masih lemah harus segera diperbaiki agar program tidak berhenti di tengah jalan.
“Kita berharap ini menjadi bahan evaluasi ke depan. Kalau ada kekurangan, tentu kita perbaiki mekanismenya agar bisa bergulir lagi di masyarakat,” kata Leonard, Selasa (2/9/2025).
Ia menambahkan, Pemprov ingin agar program peternakan tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan sektor pertanian, khususnya persawahan. Dengan begitu, manfaat yang dirasakan petani bisa lebih besar.
“Kita ingin peternakan berkolaborasi dengan cetak sawah dan pertanian. Harapannya, hal ini bisa meningkatkan pendapatan petani dan pada akhirnya mendorong kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) Provinsi Kalimantan Tengah, Rendy Lesmana, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi tersebut. Ia menegaskan, pihaknya bersama Dinas Pertanian Pulang Pisau akan segera turun lapangan untuk mencari solusi.
“Pemprov Kalteng prihatin dengan kondisi kandang yang tidak digunakan lagi. Kami akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Pulang Pisau dan pihak terkait untuk memikirkan langkah penyelamatan,” ujar Rendy.
Program budidaya itik di Belanti Siam diluncurkan sejak 2020 sebagai bagian dari Program Strategis Nasional Food Estate.
Saat itu, Kelompok Tani Jaya Makmur ditunjuk sebagai percontohan (demplot) dengan dukungan penuh dari Kementerian Pertanian melalui Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Bogor, yang kini menjadi Badan Perakitan dan Pengujian Unggas dan Aneka Ternak (BRMP Unggas).
Selama pendampingan hingga akhir 2023, kelompok tersebut mendapat fasilitas lengkap, mulai dari kandang, bibit, hingga pendampingan teknis.
Namun sejak awal 2024, BRMP tidak lagi memberikan dukungan, baik dalam bentuk pendanaan maupun pembinaan, sehingga seluruh operasional harus ditanggung kelompok.
“Mulai dari pembelian pakan, penanganan kesehatan ternak, hingga pemasaran hasil produksi diserahkan penuh kepada kelompok tani. Tingginya biaya operasional membuat mereka tidak mampu melanjutkan usaha,” terangnya. Akibatnya, kandang dan perlengkapan yang ada kini dibiarkan kosong.
Wasbitnak Ahli Madya Dinas TPHP Kalteng, Togar S. Parulian, menambahkan, tidak ada sanksi administratif yang diberikan kepada Kelompok Tani Jaya Makmur terkait terbengkalainya kandang itik tersebut.
“Tidak ada sanksinya, hanya rasa tanggung jawab saja. Mereka dipilih sebagai kelompok percontohan, sehingga seharusnya bisa menjadi contoh bagi kelompok lain yang ingin mengembangkan peternakan itik di Pulang Pisau,” ujar Togar.
Ia juga menegaskan, meski kawasan Food Estate tersebar di Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau, percontohan budidaya itik memang hanya ada di Pulang Pisau dan langsung dikelola oleh Balitnak/BRMP Bogor.
Untuk menghidupkan kembali kandang yang terbengkalai, lanjutnya, Pemprov Kalteng bersama Dinas Pertanian Pulang Pisau dan pemerintah desa setempat akan berkoordinasi dengan BRMP Unggas di Bogor.
Beberapa opsi yang disiapkan antara lain mendampingi langsung kelompok tani, menawarkan kerja sama dengan pihak ketiga, hingga mencari investor yang berminat melanjutkan usaha peternakan itik tersebut.
“Harapan kami, fasilitas ini tidak dibiarkan kosong. Dengan langkah bersama, kandang percontohan ini bisa kembali berfungsi mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Belanti Siam,” pungkasnya.(zia/ram)