Kepala BNPB Sebut Hanya Angin dan Hujan yang Bisa Hilangkan Kabut Asap

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 10:30 WIB
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto soal kabut asap di Kalteng.(Arief Prathama/Kalteng Pos)
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto soal kabut asap di Kalteng.(Arief Prathama/Kalteng Pos)

PULANG PISAU – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Tengah tidak bisa dihilangkan begitu saja menggunakan teknologi.

Kondisi alam, terutama angin dan hujan, menjadi faktor utama yang menentukan seberapa cepat asap menghilang.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, hingga saat ini tidak ada teknologi yang dapat secara langsung menghilangkan kabut asap.

“Asap ini tidak ada teknologi untuk menghilangkan asap. Hanya ada dua, yang pertama angin, yang kedua hujan,” kata Suharyanto saat berkunjung ke Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Senin (21/9/2026).

Baca Juga: Bandara Tjilik Riwut Lumpuh Total Gara-gara Kabut Asap Tebal

Menurutnya, asap yang muncul akibat karhutla akan sangat bergantung pada kondisi cuaca. Angin dapat membantu menggerakkan dan mengurai konsentrasi asap, sedangkan hujan membantu membersihkan udara sekaligus membasahi lahan yang terbakar.

Karena itu, pemerintah berupaya memanfaatkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu mendatangkan hujan di wilayah yang membutuhkan.

Namun, upaya tersebut juga menghadapi kendala. Salah satunya kondisi kabut yang menyebabkan jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut menjadi rendah.

Karhutla Masih Jadi Sumber Asap

Suharyanto menegaskan, persoalan kabut asap juga tidak bisa dilepaskan dari masih adanya kebakaran baru.

Baca Juga: Siswi SMK di Cempaga Hulu Tewas Kecelakaan saat ke Sekolah Berselimut Kabut Asap Tebal

Ia menyebut sekitar 180 hektare lahan sebelumnya terbakar di Kalteng. Satgas Darat berhasil memadamkan sekitar 150 hektare dalam satu hari, sehingga masih tersisa sekitar 30 hektare yang dalam penanganan.

“Kalau 30 hektare itu dipadamkan, apakah selesai? Tidak. Kenapa? Karena setiap hari juga ada titik kebakaran baru. Atau lahan gambut yang sudah padam itu menyala lagi. Itulah sulitnya memadamkan lahan gambut,” ujarnya.

Karakteristik lahan gambut menjadi tantangan tersendiri karena api yang terlihat padam dapat kembali menyala. Kondisi tersebut membuat sumber asap berpotensi terus muncul apabila kebakaran baru masih terjadi.

Karena itu, BNPB meminta Satgas Darat memastikan luasan yang berhasil dipadamkan setiap hari lebih besar dibandingkan kebakaran baru yang muncul.

“Tolong yang dipadamkan hari ini jangan lebih sedikit daripada titik kebakaran baru. Supaya semakin lama semakin berkurang untuk kebakaran yang baru,” tegasnya.

Dengan demikian, penanganan kabut asap tidak hanya bergantung pada upaya mengurangi asap di udara, tetapi juga pada pengendalian sumber asap melalui pemadaman karhutla dan pencegahan munculnya kebakaran baru.(*)

Editor : Agus Pramono
angin dan hujan kabut asap kepala bnpb karhutla kalteng