STRIKER andalan Atalanta dan timnas Italia, Mateo Retegui, resmi meninggalkan Atalanta untuk bergabung dengan klub Arab Saudi, Al Qadsiah, dengan nilai transfer 65 juta euro atau Rp1,23 triliun.
Transfer Retegui ke Al Qadsiah tercatat sebagai penjualan tertinggi dalam sejarah Atalanta, sekaligusnya menjadikannya sebagai pemain Italia termahal dalam sejarah, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang Sandro Tonali saat pindah ke Newcastle United seharga 59 juta euro pada tahun 2023.
Pengumuman itu disampaikan Atalanta melalui situs resminya, menyebutkan bahwa kesepakatan telah tercapai untuk transfer permanen sang penyerang. Setelah setahun, ia memutuskan untuk mencari pengalaman profesional baru yang akan membuatnya bermain di Liga Pro Saudi.
"Pemain Italia kelahiran Argentina bergabung dengan Al-Qadsiah secara permanen," demikian pernyataan resmi Atalanta pada situs resmi klub, Senin (21/7/2025), sebagaimana dikutip Antara.
Pemain berusia 26 tahun dilaporkan menandatangani kontrak berdurasi tiga tahun dengan gaji sekitar 20 juta euro (Rp381 miliar) per musim, sebuah kenaikan signifikan dari gaji sebelumnya di Atalanta yang hanya sekitar 2 juta euro (Rp38 miliar) per tahun.
Retegui didatangkan untuk mengisi kekosongan lini depan yang ditinggalkan Pierre-Emerick Aubameyang yang pergi dengan status bebas transfer.
Musim lalu, Retegui tampil gemilang bersama Atalanta dengan mencetak 25 gol dalam 36 pertandingan Serie A, yang membuatnya meraih gelar top skor liga.
Total, dia mengemas 28 gol dan sembilan assist di semua kompetisi, membantu Atalanta finis di posisi tiga besar dan lolos ke Liga Champions.
Performa apiknya ini juga menarik minat klub-klub besar Eropa seperti Juventus, AC Milan, dan Tottenham, sebelum akhirnya ia memilih tawaran menggiurkan dari Al-Qadsiah.
Namun, kepindahan Retegui ke Liga Arab Saudi memicu pro dan kontra. Di satu sisi, Al-Qadsiah menunjukkan ambisi besar dengan mendatangkan bintang-bintang dunia untuk memperkuat skuad mereka.
Di sisi lain, keputusan Retegui untuk pindah ke liga yang dianggap kurang kompetitif di usia 26 tahun menimbulkan kekhawatiran tentang dampak bagi posisinya di timnas Italia menjelang Piala Dunia 2026. (psn/net)
Editor : Petrus