Menjelang bergulirnya Super League 2025/2026, mantan pelatih Persebaya Surabaya, Paul Munster, secara terang-terangan membongkar kelemahan mantan tim asuhannya. Meski kini menukangi tim rival Bhayangkara FC, Munster tak ragu mengungkap penyebab anjloknya performa Green Force musim lalu.
Persebaya Surabaya sebenarnya tampil menjanjikan di awal musim saat masih bertajuk Liga 1 sebelum berganti nama menjadi Super League.
Di tangan Munster, tim sempat menduduki papan atas sebelum performa mereka menurun drastis di putaran kedua.
Menurut Munster, persoalan utama Persebaya Surabaya musim lalu bukan dari taktik semata, melainkan kondisi skuad yang tak ideal.
Ia menyebut badai cedera dan larangan bermain beberapa pemain menjadi pemicu turunnya performa tim di paruh kedua musim.
“Kami memulai Liga 1 dengan baik di awal, lalu di pertengahan musim kami mengalami badai cedera dan beberapa pemain mendapatkan larangan bermain,” ujar Paul Munster, dikutip dari kanal YouTube Sport77, Selasa (27/7/2025).
“Mungkin skuad kami saat itu tidak dalam kondisi yang benar-benar bagus.”
Pelatih asal Irlandia Utara itu juga menyebut timnya sempat mencoba bangkit di akhir musim meski tidak maksimal. Ia akhirnya menutup kontraknya dengan Persebaya Surabaya setelah membawa tim finish di posisi keempat klasemen.
“Kami mencoba bangkit di sisa kompetisi dan akhirnya finis di peringkat 4 untuk lolos ke Asia dan kontrak saya berakhir,” sambungnya.
Meski tak lagi di Surabaya, Munster tampak masih memiliki perhatian khusus terhadap perkembangan mantan timnya itu.
Secara statistik, Persebaya Surabaya mencatatkan hasil yang lumayan selama satu musim bersama Munster.
Dari 30 pertandingan (Munster absen 3 laga karena akumulasi kartu kuning), mereka mengoleksi 13 kemenangan, 10 hasil imbang, dan 7 kekalahan.
Total poin yang diraih Persebaya Surabaya musim lalu adalah 49 poin dengan rata-rata poin per pertandingan sebesar 1,63.
Angka ini cukup untuk membawa mereka duduk di posisi keempat klasemen akhir, tepat di bawah Persib Bandung, Dewa United, dan Malut United.
Namun, performa labil di putaran kedua menjadi sorotan tajam menjelang musim baru. Persebaya Surabaya diminta tidak mengulangi kesalahan yang sama, yakni tancap gas di awal tapi loyo di akhir.
Direktur Operasional Persebaya, Candra Wahyudi, juga sependapat dengan penilaian Paul Munster. Ia menegaskan pentingnya menjaga konsistensi sepanjang musim agar tim tidak kembali terpeleset di fase-fase penentuan.
“Saya kira 18 tim Liga 1 ini semuanya kompetitif,” ujar Candra, dikutip dari kanal YouTube Bola Bung Binder, Selasa (29/7/2025). “Artinya bahkan tiga klub baru yang promosi pun saya yakin juga akan serius.”
Candra juga mengingatkan Persebaya Surabaya kerap kesulitan saat menghadapi tim-tim papan bawah klasemen. Hal itu menurutnya menjadi bukti tak ada lawan yang bisa dipandang sebelah mata di Super League musim ini.
“Karena tahun lalu Persebaya juga kita beberapa kali kesulitan menghadapi tim yang secara klasemen di bawah,” ungkap Candra. “Artinya kita enggak mungkin underestimate juga.”
Meski begitu, Candra tak menampik secara peringkat, Persebaya Surabaya harus ekstra waspada terhadap tiga tim yang musim lalu berada di atas mereka.
Persib Bandung, Dewa United, dan Malut United disebutnya sebagai pesaing utama.
“Kalau secara kasat mata memang Persebaya harus mewaspadai tiga tim yang dulu di atasnya Persebaya,” ujarnya. “Tapi sekali lagi bukan berarti kami mengecilkan tim-tim yang di bawah kami.”
Candra menekankan kunci keberhasilan Persebaya Surabaya musim ini ada pada stabilitas performa dari awal hingga akhir musim.
Konsistensi menjadi hal yang tak bisa ditawar jika Persebaya Surabaya ingin bersaing serius di papan atas Super League.
“Iya kuncinya memang kami harus konsisten, kami harus stabil menjaga ritme,” tandasnya. “Jangan sampai kencang di awal kemudian gembos di akhir.”
Kini, Persebaya Surabaya memasuki era baru bersama pelatih anyar Eduardo Perez yang menggantikan Paul Munster.
Tantangan membangun ulang skuad yang kompetitif serta menghindari jebakan inkonsistensi menjadi pekerjaan rumah yang berat.
Dengan kompetisi yang semakin sengit dan kehadiran tim-tim promosi yang juga ambisius, Persebaya Surabaya tak punya ruang untuk lengah.
Musim 2025/2026 menjadi momen pembuktian apakah mereka bisa belajar dari kesalahan masa lalu.
Komentar Paul Munster dan penegasan dari Candra Wahyudi menjadi cerminan evaluasi besar memang diperlukan. Tak cukup hanya start bagus, tapi juga bagaimana mengakhiri musim dengan kepala tegak dan prestasi yang nyata.
Jika ingin menembus zona Asia lagi atau bahkan bersaing memperebutkan gelar, Persebaya Surabaya harus menampilkan versi terbaik mereka selama satu musim penuh.
Super League 2025/2026 bukan tentang siapa yang cepat, tapi siapa yang kuat hingga garis akhir. (jpc)
Editor : Agus Pramono