Super League 2025/2026 tinggal menghitung hari untuk memulai musim perdananya pada Jumat (8/8/2025) mendatang. Namun satu pertanyaan besar masih menggantung: akankah suporter tamu diijinkan kembali menyaksikan tim kesayangan mereka bertanding di kandang lawan?
Sejak peristiwa kelam Tragedi Kanjuruhan pada Oktober 2022, dunia sepak bola Indonesia masih merasakan dampaknya hingga kini. Kebijakan pelarangan suporter away telah diberlakukan secara konsisten, memaksa penggemar fanatik untuk hanya bisa menyaksikan tim kesayangan mereka melalui layar televisi atau platform streaming ketika bermain tandang.
Regulasi ini terus berlanjut hingga musim yang baru saja berakhir, membuat atmosfer stadion terasa kurang meriah dibandingkan era sebelumnya. Kehadiran suporter tandang yang biasanya menciptakan dinamika dan rivalitas sehat antar-fanbase kini menjadi kenangan yang dirindukan.
Upaya Terobosan dari I.League
Menjelang era baru Super League, I.League selaku operator kompetisi tidak tinggal diam. Mereka aktif mencari solusi untuk mengembalikan euforia sepak bola Indonesia dengan tetap memprioritaskan aspek keamanan dan keselamatan.
Ferry Paulus, Direktur Utama I.League, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah dalam tahap finalisasi koordinasi dengan institusi terkait.
"Kami sedang menyelesaikan sinkronisasi dengan pihak kepolisian, dan kemungkinan dalam 1-2 hari ke depan akan ada keputusan mengenai proposal yang telah kami ajukan," ungkapnya dalam konferensi pers Super League pada Minggu (3/8/2025).
Dua Alternatif Solusi yang Diajukan
I.League telah menyiapkan strategi komprehensif dengan mengajukan dua alternatif utama kepada pihak kepolisian untuk memungkinkan kembalinya suporter tamu ke stadion.
Opsi pertama adalah memberikan izin kehadiran suporter tamu untuk pertandingan-pertandingan yang dinilai memiliki tingkat risiko rendah.
"Alternatif pertama adalah permohonan agar suporter tamu dapat hadir dengan status tanpa masalah, artinya tidak ada rivalitas seperti misalnya Persija versus Persib dan sejenisnya," jelas Ferry.
Sementara alternatif kedua melibatkan inovasi teknologi melalui sistem tiket yang lebih canggih. Ferry menyebutkan bahwa mereka telah melakukan presentasi kepada kepolisian mengenai ‘ticketing system’ sebagai terobosan untuk mengatur dan mengontrol kehadiran suporter tamu dengan lebih efektif.
Meskipun Ferry tidak merinci secara spesifik mengenai sistem tiket yang diusulkan, ia mengkonfirmasi bahwa telah ada respons dari Mabes Polri. Hal ini menunjukkan bahwa proposal I.League mendapat perhatian serius dari pihak keamanan.
Namun keputusan final tidak hanya bergantung pada kepolisian. Ferry menekankan bahwa PSSI sebagai regulator juga memiliki peran krusial dalam menentukan kebijakan ini.
"PSSI sebagai regulator juga harus memberikan persetujuan terkait sinkronisasi transformasi ke FIFA. Harapannya ada titik terang untuk gambaran suporter tamu ke depannya," tuturnya.
Proses pengambilan keputusan ini melibatkan koordinasi yang kompleks antara berbagai pihak. Selain I.League, kepolisian, dan PSSI, aspek regulasi FIFA juga menjadi pertimbangan penting dalam transformasi menuju Super League.
Sinkronisasi dengan standar internasional FIFA menunjukkan bahwa Indonesia berusaha menyelaraskan regulasi domestik dengan praktik terbaik global, sambil tetap mempertimbangkan kondisi dan tantangan lokal yang spesifik.
Harapan Kembalinya Atmosfer Stadion
Keputusan mengenai izin suporter tamu diharapkan dapat diumumkan dalam waktu dekat, mengingat Super League akan segera dimulai. Kembalinya suporter away tentunya akan memberikan dimensi baru bagi atmosfer pertandingan dan rivalitas sehat antar-klub.
Penggemar sepak bola Indonesia menanti dengan penuh harap, apakah era Super League akan menandai kembalinya tradisi away fans yang telah lama tertunda sejak tragedi yang mengubah lanskap sepak bola nasional hampir tiga tahun silam.
Keputusan ini tidak hanya akan mempengaruhi atmosfer pertandingan, tetapi juga aspek ekonomi klub dan industri sepak bola secara keseluruhan. Kembalinya suporter tamu diharapkan dapat meningkatkan antusiasme dan daya tarik kompetisi yang akan berlangsung selama 34 pekan dengan total 306 pertandingan ini. (jpc)