Kehadiran Messi kala itu disebut sebagai revolusi. Tiket pertandingan Inter Miami habis dalam hitungan menit. Penjualan jersey meroket. Tayangan streaming MLS di Apple TV melonjak ratusan persen. Bahkan Kompas.com menyebut efek Messi setara dengan Super Bowl setiap akhir pekan.
Namun, seperti kisah cinta yang terlalu sempurna, waktu mulai menunjukkan retaknya ekspektasi.
Dua musim berlalu, dan narasi berubah. Messi yang dulu dielu-elukan, kini mulai menuai nyinyiran. Bukan karena performa menurun karena Messi masih rutin mencetak gol dan menjadi pusat perhatian melainkan karena dampak luar lapangan yang dinilai merugikan klub lain.
Banyak klub MLS merasa tersingkir. Tiket laga tandang yang biasanya bisa dijual bebas, kini dikontrol oleh sistem yang lebih menguntungkan Apple dan Inter Miami. Klub-klub seperti FC Dallas dan Columbus Crew terpaksa mengikuti aturan baru yang tidak bisa mereka negosiasikan.
Lebih ironis lagi, Messi sering tidak bermain dalam laga tandang karena alasan rotasi, cedera ringan, atau keputusan pribadi. Fans yang sudah membayar mahal, merasa seperti membeli tiket konser tanpa penampilan sang bintang.
MLS: Panggung Pribadi Messi?
Tak hanya soal tiket, sorotan media juga terasa berat sebelah. Bahkan jika Inter Miami kalah, satu umpan Messi bisa tetap menjadi tajuk utama. Klub lain merasa hanya jadi figuran di liga mereka sendiri. Prestasi mereka sering dilupakan. Bahkan saat pemain lain tampil luar biasa, sorotan tetap mengarah pada Messi.
Kekecewaan ini makin dalam saat Messi tertangkap kamera berkonflik di lapangan berdebat dengan wasit, pemain lawan, hingga hampir terlibat baku hantam. Sosok yang dulu dikenal tenang dan rendah hati, kini tampak lebih meledak-ledak dan dominan.
Di media sosial, muncul julukan “MLS Mafia” untuk Messi, Sergio Busquets, dan Luis Suárez tiga pemain yang dianggap terlalu berpengaruh terhadap kebijakan liga. Jadwal Inter Miami pun disebut-sebut diatur agar menguntungkan mereka, termasuk menghindari laga tandang yang jauh dan memastikan tampil di prime time.
Kehadiran Messi memang mengangkat MLS ke panggung global. Inter Miami bahkan menjadi salah satu klub paling bernilai di liga. Namun, pertanyaannya: apa yang terjadi jika Messi pensiun, cedera, atau performanya menurun?
Sebagai perbandingan, saat Cristiano Ronaldo pindah ke Arab Saudi, Liga Pro tidak hanya mengandalkan satu nama. Mereka membangun ekosistem dengan mendatangkan Karim Benzema, Neymar, Kante, hingga Mahrez. MLS tidak melakukan hal yang sama.
Kutipan Messi sendiri dalam wawancara akhir 2023 menyebut MLS sebagai “liga kecil” juga menjadi pukulan batin. Meskipun mungkin tidak bermaksud merendahkan, ucapannya memberi kesan bahwa dia datang bukan karena kualitas liga, melainkan karena kariernya sudah mendekati akhir.
Messi bukan sosok jahat. Ia membawa dampak besar, menggairahkan publik, dan meningkatkan gengsi MLS. Tapi menggantungkan satu liga pada satu pemain adalah langkah berisiko. Ketika semua dibangun di atas satu nama, maka keruntuhan bisa terjadi sewaktu-waktu.
MLS kini harus memilih: terus menjadikan Messi sebagai poros utama dengan segala konsekuensinya, atau mulai membangun masa depan sepak bola Amerika secara kolektif. Di mana Messi tetap jadi bagian penting, tapi bukan seluruh cerita.
Karena dalam sepak bola, yang abadi bukan hanya gol dan trofi melainkan konflik, emosi, dan ironi di baliknya. (*cha)