Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Analisis Kekalahan Inter: Dibungkam Mantan Pemain AC Milan, Gol Bastoni Tak Cukup Selamatkan Nerazzurri, Chivu: Level Liga Champions Sangat Tinggi

Petrus • Rabu, 25 Februari 2026 | 10:20 WIB

Gol balasan Inter Milan ke gawang Bodo/Glimt dicetak . Inter Milan harus tersingkir lebih awal dari UCL 2025/2026 setelah kalah agregat 5-2. (Sumber: Instagram @inter)
Gol balasan Inter Milan ke gawang Bodo/Glimt dicetak . Inter Milan harus tersingkir lebih awal dari UCL 2025/2026 setelah kalah agregat 5-2. (Sumber: Instagram @inter)

KEJUTAN besar mengguncang panggung Eropa ketika Inter Milan dipaksa angkat koper lebih cepat dari Liga Champions 2025/2026.

Bermain di hadapan publik sendiri di San Siro, Nerazzurri justru takluk 1-2 dari wakil Norwegia, Bodo/Glimt, pada leg kedua babak playoff, Rabu (25/2/2026) dini hari WIB.

Hasil ini menjadi pukulan telak bagi raksasa Italia tersebut. Dengan agregat 2-5, Inter harus mengubur mimpi melangkah ke babak 16 besar Liga Champions UEFA, sementara Bodo/Glimt justru menorehkan salah satu kisah paling sensasional musim ini.

 

Dominasi Tanpa Arti di Giuseppe Meazza

Sejak menit awal, Inter tampil menekan. Mereka sadar butuh kemenangan minimal tiga gol untuk membalikkan keadaan setelah hasil kurang maksimal di leg pertama. Peluang demi peluang tercipta melalui Pio Esposito, Federico Dimarco, hingga Davide Frattesi.

Namun rapatnya pertahanan Bodo/Glimt dan gemilangnya kiper Nikita Haikin membuat semua usaha tuan rumah berujung frustrasi. Penguasaan bola tinggi tak sejalan dengan efektivitas di depan gawang.

Memasuki babak kedua, justru tim tamu yang mencuri momentum. Pada menit ke-58, Jens Petter Hauge memanfaatkan bola rebound untuk membuka keunggulan. Situasi semakin memburuk ketika Håkon Evjen menggandakan skor lewat tendangan voli pada menit ke-72.

Inter hanya mampu membalas satu gol lewat Alessandro Bastoni pada menit ke-76. Hingga peluit akhir dibunyikan, skor 1-2 bertahan dan memastikan agregat 2-5 untuk kemenangan Bodo/Glimt.

 

Sihir Jens Petter Hauge di San Siro

Nama Jens Petter Hauge menjadi sorotan utama malam itu. Mantan pemain AC Milan tersebut tampil luar biasa dengan satu gol dan kontribusi penting dalam serangan balik cepat timnya.

Kecepatan, visi permainan, dan ketenangan Hauge dalam transisi membuat lini belakang Inter kerepotan sepanjang laga. Penampilannya diganjar penghargaan Man of the Match oleh Tim Pengamat Teknis UEFA.

Kemenangan ini terasa semakin emosional bagi Hauge karena ia pernah merumput di kota Milan. Kini, ia kembali ke stadion yang pernah menjadi bagian kariernya—dan justru menjadi aktor utama yang menghancurkan mimpi tuan rumah.

 

Cristian Chivu: Kami Sudah Memberikan Segalanya

Pelatih Inter, Cristian Chivu, mengaku kecewa namun tetap memberikan apresiasi kepada anak asuhnya. Ia menilai para pemain sudah berusaha maksimal meski hasil tak berpihak.

“Kami mencoba segala yang kami bisa melawan tim yang sangat terorganisir dengan pertahanan rapat. Ketidakmampuan memecah kebuntuan menciptakan zona nyaman mental bagi mereka,” ujar Chivu.

Ia juga menolak menyalahkan pemain dan mengakui keunggulan lawan. Menurutnya, Bodo/Glimt tampil dengan energi lebih besar dan sangat disiplin menjaga area penalti.

 

Jadwal Padat dan Tembok Pertahanan Jadi Faktor

Chivu menyinggung faktor kelelahan akibat jadwal padat sebagai salah satu penyebab menurunnya energi timnya. Bermain setiap tiga hari membuat intensitas sulit dijaga tetap maksimal.

Ia juga menyoroti pendekatan bertahan total Bodo/Glimt yang menempatkan banyak pemain di dalam kotak penalti. “Dengan sepuluh pemain di dalam kotak penalti untuk bertahan, itu benar-benar sulit,” katanya.

Meski kecewa, Chivu meminta timnya segera bangkit dan melupakan hasil ini. Ia menegaskan bahwa level Liga Champions memang sangat tinggi, dan setiap kesalahan bisa langsung dihukum.

 

Malam yang Akan Dikenang

Kekalahan ini menjadi pengingat bahwa nama besar tak selalu menjamin kemenangan di Eropa. Inter harus melakukan evaluasi besar jika ingin kembali bersaing di level tertinggi.

Sementara itu, Bodo/Glimt menorehkan sejarah manis. Dari wilayah utara Norwegia, mereka datang tanpa beban—dan pulang dengan tiket ke babak 16 besar serta reputasi sebagai penakluk raksasa Italia. (psn/net)

Editor : Petrus
#level #Nerazzurri #inter #ac milan #Chivu #analisis kekalahan #bastoni #mantan pemain #Liga Champhions