DERBI Comunidad de Madrid kembali memanas. Di tengah badai cedera dan tekanan perburuan gelar, Real Madrid dipaksa tampil dengan komposisi darurat saat menjamu Getafe CF pada jornada ke-26 LaLiga.
Laga di Santiago Bernabeu, Selasa (3/3/2026) dini hari WIB, bukan sekadar soal gengsi tetangga—ini tentang menjaga asa juara tetap menyala.
Tekanan makin terasa setelah Barcelona meraih kemenangan dan memperlebar jarak menjadi empat poin.
Di saat yang sama, Madrid justru dihantam krisis bek tengah dan kehilangan mesin golnya.
Namun sejarah dan rekor kandang Los Blancos atas Azulones menjadi modal psikologis yang tak bisa diabaikan.
Krisis Bek Tengah: Stok Menipis, Opsi Berisiko
Madrid menghadapi situasi darurat di jantung pertahanan. Eder Militao masih menepi akibat cedera ACL dan hamstring hingga April.
Dean Huijsen sempat dibekap masalah betis, sementara Raul Asencio mengalami gangguan leher usai insiden dengan Eduardo Camavinga saat melawan SL Benfica di Liga Champions.
Kini tersisa dua bek senior: Antonio Rudiger dan David Alaba. Meski sarat pengalaman, keduanya lama tak tampil bersama sebagai starter.
Bahkan memainkan Rudiger penuh 90 menit dinilai berisiko karena baru pulih dari cedera lutut.
Pelatih Alvaro Arbeloa tetap optimistis. Ia menegaskan kepercayaan penuh pada stok pemain yang ada untuk menjaga soliditas lini belakang.
Mbappe Absen, Vinicius Jadi Andalan
Masalah Madrid tak berhenti di belakang. Kylian Mbappe harus absen sekitar tiga pekan akibat cedera lutut kiri.
Top skor tim dengan 38 gol musim ini itu diharapkan pulih tepat waktu untuk leg pertama 16 besar Liga Champions melawan Manchester City.
Tanpa Mbappe, sorotan mengarah kepada Vinicius Junior. Winger Brasil tersebut tengah dalam tren positif dengan torehan gol beruntun sepanjang Februari.
Saat Madrid terakhir bermain tanpa Mbappe, mereka tetap mampu menumbangkan Benfica 2-1—sebuah bukti bahwa daya gedor belum sepenuhnya hilang.
Rekor 18 Tahun: Bernabeu Jadi Mimpi Buruk Getafe
Secara historis, Bernabeu adalah wilayah terlarang bagi Getafe. Selama 18 tahun terakhir, Madrid selalu menang dalam 16 laga kandang kontra Azulones.
Kali terakhir Madrid tumbang terjadi pada Februari 2008, ketika masih diperkuat Raul Gonzalez dan kalah lewat gol tunggal Ikechukwu Uche.
Sejak itu, Getafe kerap menjadi “lumbung gol”. Dari 16 pertemuan kandang tersebut, Madrid hampir selalu mencetak minimal dua gol.
Statistik ini menjadi suntikan kepercayaan diri di tengah situasi skuad yang tak ideal.
Getafe Datang Tanpa Djene, Bordalas Tetap Percaya Diri
Getafe juga tak sepenuhnya ideal. Bek andalan Djene harus absen karena skorsing kartu merah saat melawan Sevilla.
Posisi tersebut diprediksi diisi Mario Martin, sementara Diego Rico berpeluang tampil sejak awal.
Meski demikian, pelatih Jose Bordalas tak gentar. Ia menilai Madrid tetap salah satu tim terbaik sepanjang sejarah, tetapi menegaskan timnya siap memberi perlawanan sengit dalam duel penuh tensi ini.
Prakiraan Susunan Pemain
Real Madrid (4-4-2):
Courtois; Alexander-Arnold, Rudiger, Alaba, Carreras; Valverde, Gueler, Tchouameni, Brahim Diaz; Gonzalo Garcia, Vinicius Jr.
Pelatih: Alvaro Arbeloa.
Getafe (5-3-2):
Soria; Femena, Iglesias, Romero, Rico; Martin, Milla, Arambarri; Luis Vazquez, Satriano.
Pelatih: Jose Bordalas.
Di atas kertas, Madrid tetap favorit. Namun krisis pemain dan tekanan klasemen membuat laga ini jauh dari kata mudah.
Jika Los Blancos terpeleset lagi, jarak dengan Barcelona bisa semakin melebar—sebuah skenario yang tak boleh terjadi dalam balapan juara yang kian panas. (psn/net)
Editor : Petrus