LEG pertama semifinal Coppa Italia 2025/2026 menghadirkan pertarungan sarat tensi antara Como 1907 dan Inter Milan.
Bertempat di Stadio Giuseppe Sinigaglia, duel berjalan keras, disiplin, dan penuh kalkulasi hingga berakhir tanpa gol.
Skor 0-0 memang tak memuaskan dahaga gol, namun laga ini menyajikan pertarungan taktik yang menarik.
Como tampil berani dan tanpa rasa inferior, sementara Inter lebih pragmatis, menunggu momentum yang tak kunjung datang. Tiket final kini akan ditentukan di leg kedua di markas Nerazzurri.
Duel Ketat, Tempo Tinggi Sejak Awal
Sejak menit awal, Como menunjukkan mentalitas menyerang. Nico Paz langsung mengancam lewat sepakan jarak jauh yang memaksa Josep Martinez bekerja keras.
Tim asuhan Cesc Fabregas tampil rapi dalam organisasi permainan dan disiplin menjaga jarak antar lini.
Inter yang melakukan rotasi tampak kesulitan mengembangkan kreativitas.
Tanpa duet Lautaro Martinez dan Marcus Thuram sejak awal laga, serangan Nerazzurri kurang menggigit.
Babak pertama pun ditutup tanpa gol, meski Como beberapa kali menciptakan situasi berbahaya.
Babak Kedua: Adu Taktik di Tengah Lapangan
Memasuki paruh kedua, intensitas duel di lini tengah semakin meningkat. Kedua tim lebih banyak bertarung dalam perebutan bola dibanding menciptakan peluang bersih.
Peluang emas Como hadir lewat skema umpan tarik Ivan Smolcic yang disambar Alex Valle, namun penyelesaian akhirnya melenceng.
Inter membalas melalui Matteo Darmian yang hampir mencetak gol dari sudut sempit, tetapi bola hanya membentur tiang gawang.
Pergantian pemain yang dilakukan kedua pelatih belum mampu mengubah dinamika pertandingan. Hingga peluit panjang dibunyikan, skor kacamata tetap bertahan.
Inter Minim Kreasi, Como Lebih Berani
Secara statistik penguasaan bola, Inter sedikit unggul. Namun dalam hal agresivitas dan peluang bersih, Como justru tampil lebih berbahaya.
Rotasi pemain Inter membuat alur serangan kurang cair. Pio Esposito yang dipercaya sebagai ujung tombak belum mampu memberikan dampak signifikan.
Masuknya Marcus Thuram di babak kedua juga belum cukup untuk memecah kebuntuan.
Di sisi lain, Como memperlihatkan kedewasaan bermain di laga besar. Meski berstatus non-unggulan, mereka mampu menekan dan memaksa Inter bermain lebih hati-hati.
Josep Martinez, Tembok Terakhir Nerazzurri
Kiper Inter, Josep Martinez, layak dinobatkan sebagai man of the match.
Meski hanya mencatatkan satu penyelamatan krusial, perannya dalam membaca permainan dan distribusi bola sangat vital.
Kiper 27 tahun itu membukukan 80 persen akurasi umpan dari 38 sentuhan bola, ditambah dua high claim dan sepuluh recovery.
Ketangguhannya menjaga konsentrasi membuat Inter tetap bertahan dalam situasi sulit. Rapor 7,5 dari FotMob menjadi bukti kontribusinya di laga ini.
Penentuan di Giuseppe Meazza
Hasil imbang tanpa gol membuat peluang kedua tim tetap terbuka. Namun secara konteks dua leg, Inter sedikit di atas angin karena akan menjamu Como di kandang sendiri.
Leg kedua akan digelar di Stadio Giuseppe Meazza pada April mendatang. Pemenang duel ini sudah ditunggu salah satu dari Lazio atau Atalanta di partai final.
Pertanyaannya kini, mampukah Como kembali tampil berani di kandang lawan? Atau Inter yang akan menunjukkan kelasnya di depan publik sendiri? Semua akan terjawab di leg penentuan. (psn/net)
Editor : Petrus