Puluhan Pelajar dan Guru SMPN 1 Kuala Pembuang Alami Diare Hingga Muntah Usai Santap Menu MBG

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 16:09 WIB
Ilustrasi keracunan.
Ilustrasi keracunan MBG.

KUALA PEMBUANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, menjadi sorotan setelah puluhan siswa dan guru mengalami gangguan kesehatan secara bersamaan. 

Hingga Kamis (30/7/2026), jumlah warga sekolah yang terdampak tercatat sekitar 90 orang, terdiri atas 75 siswa dan 15 guru.

Keluhan yang muncul didominasi demam, pusing, diare, hingga muntah. Gejala tersebut mulai dirasakan sehari setelah makanan MBG disajikan kepada para siswa dan tenaga pendidik.

Kepala SMPN 1 Kuala Pembuang, Mardiana, menjelaskan menu MBG dibagikan pada Selasa (28/7/2026). Saat itu tidak ada laporan mencurigakan. Namun, kondisi berubah keesokan harinya ketika banyak siswa tidak hadir ke sekolah karena sakit.

“Pada Rabu banyak orang tua mengabarkan di grup bahwa anak mereka tidak masuk sekolah karena sakit. Bersamaan dengan itu ada 6 guru yang juga mengalami keluhan serupa,” ujarnya. 

Menurut Mardiana, jumlah guru yang mengalami gejala serupa terus bertambah. Hingga Kamis siang, total warga sekolah yang terdampak mencapai sekitar 90 orang.

Mardiana mengungkapkan, sekolah sebenarnya memiliki prosedur pemeriksaan makanan sebelum dibagikan kepada siswa. Ia biasanya mencicipi seluruh menu yang datang untuk memastikan kualitasnya.

Namun, pada hari kejadian, prosedur tersebut tidak dilakukan karena dirinya sedang mendampingi kegiatan Pramuka di kawasan Sungai Bakau. 

Ia baru sempat mencicipi makanan sekitar pukul 11.00 WIB, setelah seluruh siswa selesai makan. Saat itu, ia langsung mencurigai salah satu lauk yang disajikan.

“Saya langsung bilang, ‘Kenapa baunya seperti ini?’ Setelah dicek, telurnya memang sudah berbau. Saya kemudian meminta dibuatkan berita acara dan memberikan penilaian kualitas rendah karena makanan itu tidak layak dikonsumsi,” katanya.

Berdasarkan pengamatan pihak sekolah, hanya lauk telur yang diduga bermasalah. Menu lain seperti sayuran dan buah tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan.

Baca Juga: Koalisi Masyarakat Peduli Gizi Anak Gelar Aksi di Kalteng, Minta Program MBG Dilanjutkan dan BGN Dibenahi

Mardiana mengatakan dugaan itu juga diperkuat oleh kondisi beberapa guru yang tidak memakan telur, tetapi hanya menyantap nasi dan lauk lainnya. Mereka dilaporkan tidak mengalami gangguan kesehatan.

“Menu hari itu terdiri dari telur orek, oseng wortel dan kol, serta buah naga. Sayur dan buah rasanya normal. Yang bermasalah hanya telurnya karena baunya sudah tidak wajar,” jelasnya.

Pendataan sementara menunjukkan korban berasal dari berbagai jenjang kelas. Meski demikian, siswa kelas tujuh dan sembilan menjadi kelompok dengan jumlah keluhan terbanyak.

Pihak sekolah menyebut kejadian tersebut merupakan insiden pertama sejak Program Makan Bergizi Gratis diterapkan di SMPN 1 Kuala Pembuang.

Saat ini sekolah telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan instansi terkait guna memastikan seluruh siswa maupun guru yang terdampak memperoleh penanganan medis. 

Dinkes Seruyan Turun Tangan

Dinas Kesehatan (Dinkes) Seruyan pun langsung membuka posko kesehatan di sekolah dan mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Seruyan, Sarinah, mengatakan informasi awal diterima dari Satgas pada Selasa malam dan langsung ditindaklanjuti keesokan harinya.

“Begitu menerima laporan, kami langsung turun ke sekolah untuk memastikan kondisi di lapangan. Dari hasil pendataan sementara, ada sekitar 90 siswa yang mengalami keluhan,” katanya mengutip Radar Sampit (Jawa Pos grup). 

Menurut Sarinah, sebagian siswa telah lebih dahulu mendapatkan penanganan di rumah sakit maupun klinik praktik sebelum posko kesehatan dibuka.

Melihat banyaknya warga sekolah yang terdampak, Dinkes memutuskan membuka layanan kesehatan khusus di SMPN 1 Kuala Pembuang. Posko tersebut juga disiapkan untuk melayani pelajar dari sekolah lain apabila ditemukan kasus serupa.

Meski dugaan awal mengarah pada makanan MBG, Dinkes belum menyimpulkan penyebab pasti kejadian tersebut. Saat ini tim masih melakukan penyelidikan epidemiologi sekaligus mengumpulkan sampel makanan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Baca Juga: Diduga Keracunan Menu Spageti dari MBG, Lebih 70 Siswa dari 4 Sekolah di Wilayah Jaktim Alami Mual hingga Diare

“Kami belum bisa memastikan penyebabnya. Hari ini sampel makanan akan kami ambil dari dapur SPPG untuk diperiksa di laboratorium. Sesuai SOP, setiap makanan yang disajikan memang wajib disimpan sebagai sampel selama minimal 2x24 jam, dan alhamdulillah sampel tersebut masih tersedia,” jelasnya.

Ia menegaskan hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) nantinya akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab kejadian sekaligus menentukan langkah penanganan berikutnya.

Dalam operasional posko, Dinkes bekerja sama dengan Puskesmas Kuala Pembuang I. Karena keterbatasan tenaga dokter di puskesmas, Dinkes turut mengerahkan personel medis tambahan dari kantor dinas.

“Tim yang bertugas merupakan gabungan dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas Kuala Pembuang I. Kami ingin memastikan seluruh siswa yang memiliki keluhan bisa segera diperiksa dan mendapatkan penanganan,” ujarnya.

Untuk sementara, posko kesehatan mulai beroperasi sejak pukul 10.00 WIB dan akan dievaluasi sesuai perkembangan jumlah pasien di lapangan. 

Dinkes juga menyatakan tidak menutup kemungkinan memperpanjang layanan apabila masih ditemukan siswa maupun guru yang memerlukan pemeriksaan lanjutan. (*)

Editor : Agus Pramono
keracunan mbg seruyan keracunan smpn 1 kuala pembuang Makan Bergizi Gratis keracunan mbg