PANGKALAN BUN – Upaya pelestarian hutan di Kalimantan Tengah kembali menemukan napas baru. Kolaborasi antara Kelompok Tani Hutan (KTH) Meniti Fajar dan perusahaan kelapa sawit Bumitama Gunajaya Agro (BGA) Group menjadi contoh sinergi nyata antara masyarakat dan sektor swasta dalam mengelola hutan secara berkelanjutan sekaligus memperkuat ekonomi warga.
Kelompok yang bermarkas di Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) ini awalnya hanyalah kelompok tani biasa. Berdiri sejak 2011, Meniti Fajar fokus pada kegiatan pertanian dan peternakan tanpa memiliki dasar hukum. Namun semangat kolektif untuk menghidupkan ekonomi desa mendorong mereka berkembang hingga resmi menjadi pengelola hutan kemasyarakatan (HKm) seluas 1.909 hektare pada 2021.
Transformasi besar terjadi saat BGA Group menjalin kerja sama strategis dengan KTH Meniti Fajar pada akhir 2024. Melalui kemitraan ini, kedua pihak berkomitmen menjaga tutupan hutan, menekan deforestasi, serta menciptakan peluang ekonomi baru melalui pendekatan agroforestry.
“Kerja sama ini sejalan dengan semangat Bumitama Berdaya yang menekankan pentingnya kemandirian ekonomi masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan,” ujar Andi Amin, Sustainability Governance Department Head BGA, Selasa (21/10).
Dalam kerja sama jangka panjang yang direncanakan hingga 25 tahun, BGA tidak hanya memberikan pendampingan teknis dan pelatihan, tetapi juga membantu penyediaan kecambah serta bibit kakao unggul. Abu boiler dari pabrik kelapa sawit turut dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk memperkaya tanah.
Hasil kajian awal (baseline study) yang dilakukan bersama konsultan menunjukkan kawasan hutan di Raja Seberang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata alam terpadu dan demplot kakao edukatif. Berdasarkan hasil tersebut, KTH mulai menanam kakao sebagai komoditas unggulan baru.
Sampai saat ini sudah tertanam sekitar 3.000 batang kakao. Ditargetkan 5.000 batang pada akhir tahun. Ini bukan hanya soal tanaman, tapi tentang masa depan ekonomi dan lingkungan.
Langkah ini membuktikan bahwa kolaborasi antara masyarakat dan dunia usaha dapat menghadirkan model pengelolaan hutan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Selain menjaga tutupan hutan, inisiatif ini juga membuka ruang bagi warga untuk memperoleh penghasilan tambahan tanpa harus menebang pohon.
“Dengan pendampingan yang terus berjalan, kami berharap Meniti Fajar menjadi contoh nyata bagaimana hutan dapat menjadi sumber penghidupan yang lestari,” tutupnya.(sli)