PANGKALAN BUN — Pengurus Wilayah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kalimantan Tengah melaksanakan kunjungan kerja, silaturrahim, dan roadshow ke Pengurus Daerah MES Kabupaten Kotawaringin Barat sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi pengembangan ekonomi syariah berbasis masyarakat dan pesantren.
Kegiatan diawali dengan penyampaian laporan tahunan MES Kalimantan Tengah Tahun 2025, pemaparan hasil Silaturahmi Wilayah (Silakwil), serta rencana program kerja MES Kalimantan Tengah Tahun 2026.
Rangkaian kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan rapat koordinasi antara Pengurus Wilayah MES Kalimantan Tengah dan Pengurus Daerah MES Kabupaten Kotawaringin Barat.
Rapat koordinasi dihadiri oleh Ketua MES Kabupaten Kotawaringin Barat, Sekretaris Umum, serta para Ketua Divisi.
Sementara dari Pengurus Wilayah MES Kalimantan Tengah hadir Jelita, MSI selaku Ketua Rombongan sekaligus Anggota Divisi 1, Dr. Itsla Yunisva Aviva, M.E.Sy selaku Ketua Divisi 3, Maulana Malik, S.P. selaku Ketua Divisi Kewirausahaan dan Pondok Pesantren, serta Rio Wirajati selaku Anggota Divisi 3.
Dalam rapat tersebut dibahas berbagai strategi penguatan peran MES melalui pendekatan kolaboratif antara pengurus wilayah dan daerah.
"Fokus utama diarahkan pada pengembangan ekosistem ekonomi syariah berbasis pesantren dan UMKM, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta integrasi program ekonomi syariah dengan isu sosial dan lingkungan," kata Jelita dalam rilis yang disampaikan MES Kalteng.
Salah satu program kolaboratif yang dibahas adalah rencana pelaksanaan kegiatan edukasi dan literasi pilah sampah yang akan melibatkan MES Kalimantan Tengah dan MES Kabupaten Kotawaringin Barat, bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang lingkungan.
"Program ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran ekonomi sirkular berbasis nilai-nilai Islam, sekaligus mendorong peran pesantren dan masyarakat dalam pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi dan berkelanjutan," kata Jelita.
Selain itu, MES Kalimantan Tengah juga menyampaikan rencana pelaksanaan Training of Trainers (ToT) pendampingan penyusunan laporan keuangan pondok pesantren yang akan difasilitasi oleh Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah.
Program ToT ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pengelola pesantren dalam pencatatan dan pelaporan keuangan yang akuntabel, transparan, serta sesuai dengan prinsip tata kelola yang baik (good governance), sebagai fondasi penguatan kemandirian ekonomi pesantren.
Usai rapat koordinasi, rombongan melanjutkan kegiatan dengan melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah pondok pesantren yang telah mengembangkan unit usaha produktif.
Kunjungan pertama dilakukan ke Pondok Pesantren Manbaul Husna Lidda’wah, yang memiliki unit usaha di bidang perikanan dan pertanian dengan jumlah santri sekitar 300 orang.
Selanjutnya, rombongan mengunjungi Pondok Pesantren Sunan Giri Al Wahdah yang mengembangkan usaha laundry pondok dengan jumlah santri sekitar 600 orang.
Usaha tersebut telah mencapai titik Break Even Point (BEP) dalam waktu dua tahun dan saat ini mampu menghasilkan keuntungan puluhan juta rupiah yang dimanfaatkan untuk program beasiswa santri.
Kunjungan berikutnya dilakukan ke Pondok Pesantren Entrepreneur Dar Al Raudhah, yang mengembangkan usaha air minum dalam kemasan dengan merek “Dara”.
Pondok ini memiliki lebih dari 700 santri, dengan jangkauan distribusi produk yang telah mencakup beberapa kabupaten di sekitarnya.
Selain unit usaha, pondok ini juga mengembangkan inovasi teknologi digital berupa aplikasi keuangan pesantren yang dirancang dan dikembangkan langsung oleh para santri.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Pengurus MES juga menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia atas dukungan bantuan sarana dan prasarana yang telah diberikan kepada pondok pesantren.
Bantuan tersebut dinilai telah dimanfaatkan secara optimal dan memberikan dampak nyata dalam mendukung operasional serta pengembangan usaha pesantren.
Pihak Bank Indonesia pun menyampaikan apresiasi karena dukungan yang diberikan mampu berkontribusi langsung terhadap penguatan kemandirian ekonomi pesantren.
Ke depan, Pengurus MES Kabupaten Kotawaringin Barat berencana melakukan pendataan terhadap sekitar 21 pondok pesantren guna memetakan potensi ekonomi pesantren secara komprehensif.
Data tersebut akan menjadi dasar perumusan program pendampingan dan pengembangan ekonomi pesantren yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan.
Melalui rangkaian kegiatan ini, MES Kalimantan Tengah dan MES Kabupaten Kotawaringin Barat berharap dapat terus memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi syariah yang inklusif, berkelanjutan, serta berbasis pada kemandirian dan kemaslahatan umat.(hms/sma)
Editor : Agus Pramono