POTRET kehidupan warga di Desa Parang Batang, Kecamatan Hanau, Kabupaten Seruyan dulu begitu bersabat dengan alam. Namun, kondisi tersebut berubah drastis ketika perkebunan sawit skala besar mulai merambah hutan dan ruang hidup warga.
Dampak paling menyakitkan dari kondisi ini dirasakan langsung oleh anak-anak buruh sawit. Pendidikan mereka kian terjepit.
Aida, seorang buruh perempuan, tak kuasa menahan air mata saat menceritakan harapannya untuk masa depan pendidikan anaknya.
“Kami ini memang bukan orang berpendidikan tinggi, tapi kami mau anak kami sekolah seperti anak-anak di kota,” ucapnya dengan suara bergetar saat diwawancarai Kalteng Pos, awal Desember 2025 lalu.
Aida mengungkapkan, anaknya saat ini bersekolah di salah satu pesantren di Martapura. Selama ini, gaji sebagai buruh sawit menjadi satu-satunya sumber untuk membiayai pendidikan tersebut.
Namun, sejak adanya kebijakan baru perusahaan, penghasilannya semakin tidak menentu. “Dulu masih bisa kirim uang dengan lancar, sekarang kami bingung mau cari pemasukan dari mana lagi,” katanya.
Hingga saat ini terdapat sekitar 182 warga Desa Parang Batang yang bekerja sebagai buruh di PT Wanna Sawit Subur Lestari (WSSL).
Upah yang diterima pun jauh dari kata layak. Sejak tahun 2019 hingga Juni 2025, upah buruh BHL di perusahaan tersebut hanya Rp80.000 per hari atau per hari kerja (HK).
Dalam satu bulan, perusahaan hanya menetapkan 12 hingga 16 hari kerja. Artinya, pendapatan buruh per bulan hanya berkisar antara Rp900.000 hingga Rp1.200.000.
Kondisi ekonomi yang tertekan ini juga berkaitan erat dengan keterbatasan akses pendidikan di Desa Parang Batang. Di desa ini, fasilitas pendidikan hanya tersedia hingga tingkat SMP.
Untuk melanjutkan pendidikan ke SMA, anak-anak harus pergi ke ibu kota kabupaten yang berjarak sekitar 156 kilometer atau ke ibu kota kecamatan dengan jarak sekitar 37 kilometer.
Jarak yang jauh itu menuntut biaya tambahan untuk transportasi, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup. Bagi keluarga buruh sawit dengan pendapatan di bawah Rp1,2 juta per bulan, biaya tersebut menjadi beban yang sangat berat.
Sebagian besar anak-anak Parang Batang akhirnya bersekolah di pesantren yang berada di Pembuang Hulu atau Pangkalan Bun, baik untuk tingkat SMP maupun SMA.
Sementara itu, pendidikan di desa didominasi oleh TK dan SD, dengan keterbatasan tenaga pengajar.(zia/ram)
Editor : Ayu Oktaviana