DALAM beberapa tahun terakhir, matcha menjelma menjadi salah satu minuman favorit generasi muda, terutama Gen Z.
Warna hijau khasnya yang estetik, rasa lembut, hingga citra sebagai “minuman sehat” membuat matcha latte semakin mudah ditemui di berbagai kafe dan gerai minuman kekinian.
Namun, pertanyaan penting pun muncul: apakah aman mengonsumsi matcha setiap hari? Benarkah matcha lebih sehat dibanding kopi?
Matcha sendiri merupakan bubuk teh hijau yang berasal dari daun Camellia sinensis, sama seperti teh hijau biasa.
Bedanya, matcha dibuat dari daun pilihan yang digiling halus sehingga dikonsumsi secara utuh, bukan sekadar diseduh.
Proses ini membuat kandungan antioksidan matcha, terutama epigallocatechin gallate (EGCG), jauh lebih tinggi. EGCG dikenal memiliki sifat anti-inflamasi, mendukung kesehatan jantung, hingga berpotensi membantu metabolisme tubuh.
Dari sisi kafein, matcha memang mengandung kafein, tetapi dalam jumlah yang biasanya lebih rendah daripada kopi.
Satu cangkir matcha (sekitar 1 gram bubuk) rata-rata mengandung 70 mg kafein, sedangkan secangkir kopi bisa mencapai 95–120 mg.
Menariknya, matcha juga kaya L-theanine, senyawa yang mampu menenangkan otak dan meredakan efek samping kafein seperti jantung berdebar atau rasa gelisah.
Perpaduan kafein dan L-theanine inilah yang membuat banyak orang menyebut matcha memberikan efek “tenang tapi tetap fokus”.
Menurut dr Tan Shot Yen, M Hum, dokter dan ahli gizi komunitas, konsumsi matcha murni tanpa tambahan gula atau krimer cenderung aman bahkan jika dikonsumsi setiap hari.
“Yang perlu diwaspadai adalah ketika matcha diolah menjadi minuman manis, seperti matcha latte dengan sirup, susu kental manis, atau bubble. Kandungan gulanya bisa sangat tinggi dan justru menimbulkan risiko lain,” ujarnya dalam diskusi kesehatan yang dikutip dari Kompas.com.
Idealnya, konsumsi matcha cukup 1–2 cangkir per hari, terutama jika tidak dikombinasikan dengan kafein dari sumber lain.
Disarankan untuk menghindari konsumsi matcha di malam hari agar tidak mengganggu kualitas tidur.
Jika dikonsumsi dalam bentuk murni (misalnya hanya dengan air hangat atau susu nabati tanpa gula), matcha dapat menjadi pilihan yang baik sebagai pengganti kopi.
Jurnal dari Harvard T.H. Chan School of Public Health juga menyebutkan bahwa teh hijau, termasuk matcha, kaya akan polifenol yang mendukung kesehatan sel tubuh dan mengurangi risiko penyakit kronis jika dikonsumsi secara rutin dan dalam takaran wajar.
Matcha memang memiliki banyak manfaat kesehatan, terutama jika dikonsumsi dalam bentuk alami dan tidak berlebihan.
Gen Z tetap bisa menikmati matcha setiap hari, asal paham takarannya dan bijak dalam memilih bentuk penyajiannya.
Matcha bukan sekadar tren, tapi bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat—asal tidak dicampur berlebihan dengan gula dan krimer. (jpg/abw)
Editor : Ayu Oktaviana