“Tidak hanya mengandalkan Satgas di tingkat kabupaten, kami juga mendorong setiap satuan pendidikan agar tim pencegahan di sekolah benar-benar aktif dan optimal dalam menjalankan perannya,” ujar Kepala Disdik Kotim Muhammad Irfansyah, Selasa (10/6/2025).
Perhatian terhadap isu kekerasan di dunia pendidikan memang menjadi salah satu fokus pemerintah daerah. Praktik perundungan (bullying), kekerasan fisik, maupun kekerasan verbal masih ditemukan di sejumlah wilayah. Dampaknya bisa sangat merugikan bagi peserta didik, terutama secara psikologis.
Guna memperkuat pencegahan, selain Satgas PPKSP di tingkat kabupaten, telah dibentuk pula Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di tiap-tiap sekolah. Mereka tidak bekerja sendiri. Kolaborasi dengan berbagai pihak guru, siswa, orang tua, hingga komunitas pendidikan terus digalang demi menciptakan ekosistem sekolah yang aman.
“Kami ingin penerapan pencegahan dan penanganan kekerasan ini benar-benar melibatkan semua unsur. Data yang dikumpulkan menjadi bahan evaluasi agar strategi yang dijalankan semakin efektif,” jelas Irfansyah.
Menurut Irfansyah, edukasi tentang bahaya tindak kekerasan dan upaya pencegahannya tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga seluruh elemen yang terlibat dalam pendidikan.
“Tidak boleh ada satu pun yang menjadi korban kekerasan di sekolah. Pencegahan tetap menjadi prioritas, namun jika terjadi pelanggaran, penanganan harus tegas sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.
Irfansyah juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini telah menunjukkan komitmen dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang sehat.
“Kami berharap sinergi ini terus ditingkatkan. Mari bersama-sama kita ciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak kita. Stop kekerasan di dunia pendidikan,” pungkasnya.(bah) Editor : Administrator