PALANGKA RAYA – Tren kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di Kalimantan Tengah menunjukkan dinamika yang kontras.
Meski jumlah kejadian mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, tingkat fatalitas korban justru meningkat signifikan.
Direktur Lalu Lintas Polda Kalteng, Kombes Pol Yusep Dwi Prastiya, mengungkapkan bahwa sepanjang 2026 tercatat sebanyak 28 kejadian kecelakaan. Namun dari jumlah tersebut, korban meninggal dunia mencapai 14 orang—meningkat sekitar 50 persen dibandingkan tahun 2025.
“Secara jumlah kejadian memang turun, tetapi fatalitas korban cukup tinggi. Ini menjadi evaluasi bagi kami,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Menurut Yusep, tingginya angka fatalitas dipengaruhi oleh beberapa kecelakaan dengan dampak besar. Salah satunya terjadi di Kabupaten Barito Timur yang menyebabkan tiga orang meninggal dunia dalam satu peristiwa.
“Kasus-kasus dengan korban banyak dalam satu kejadian sangat memengaruhi angka fatalitas secara keseluruhan,” jelasnya.
Di sisi lain, pola mobilitas masyarakat selama arus mudik tahun ini juga mengalami perubahan. Penggunaan moda transportasi darat dan udara terpantau menurun, sementara transportasi laut justru mengalami lonjakan signifikan.
“Moda darat dan udara menurun, termasuk di Palangka Raya, Kotawaringin Timur, dan Kotawaringin Barat. Sebaliknya, transportasi laut meningkat hampir 100 persen,” ungkapnya.
Polda Kalteng bersama instansi terkait, termasuk dinas perhubungan, akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk mengidentifikasi penyebab perubahan tren tersebut.
Meski demikian, kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat selama periode mudik hingga perayaan Idulfitri secara umum terpantau kondusif. Aktivitas masyarakat berjalan aman meskipun mobilitas cukup tinggi.
Polisi memprediksi puncak arus balik akan terjadi pada Jumat hingga Sabtu, 27–28 Maret 2026. Untuk itu, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan selama perjalanan.
“Kami mengingatkan agar masyarakat mempersiapkan kendaraan dengan baik, menjaga kondisi fisik, dan selalu mematuhi rambu lalu lintas. Keselamatan harus menjadi kebutuhan,” tegasnya.(*/rif)
Editor : Ayu Oktaviana