Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Suksesi Kepemimpinan Perguruan Tinggi dari Harapan Menuju Keniscayaan

I
Penulis: Ismail❯
Kusnida Indrajaya
Kusnida Indrajaya

Oleh: Kusnida Indrajaya


Advertisement

Akankah perguruan tinggi di Kalimantan Tengah dipimpin dengan cara berpikir masa lalu untuk menghadapi tantangan masa depan? Pertanyaan ini layak diajukan ketika dinamika global bergerak begitu cepat, teknologi mengubah wajah pendidikan tinggi, dan tuntutan masyarakat terhadap mutu perguruan tinggi yang semakin tinggi. Di tengah perubahan besar tersebut, suksesi kepemimpinan perguruan tinggi bukan lagi sekadar agenda administratif, melainkan momentum strategis menentukan arah masa depan akademik.

Usia sejumlah perguruan tinggi di Kalimantan Tengah khususnya Univwrsitas Palangka Raya (UPR) yang semakin matang semestinya menjadi simbol kedewasaan institusi. Kampus yang semakin tua tidak boleh menjadi institusi yang kehilangan daya gerak, apalagi terjebak pada romantisme masa lalu. Justru kematangan usia harus melahirkan keberanian untuk berubah. Sebab institusi pendidikan tidak ditentukan oleh berapa lama ia berdiri, melainkan oleh sejauh mana ia mampu menjawab tantangan zaman.

Kalimantan Tengah sedang berdiri di persimpangan sejarah pembangunan.

Advertisement

Dengan kekayaan sumber daya alam, posisi strategis dalam lanskap nasional, serta peluang besar sebagai wilayah pertumbuhan baru, daerah ini menyimpan potensi menjadi salah satu “raksasa masa depan” Indonesia.

Namun, sebesar apa pun sumber daya yang dimiliki, tidak akan bermakna tanpa kualitas sumber daya manusia yang unggul. Di titik inilah perguruan tinggi menjadi penentu arah: mencetak generasi yang cerdas, adaptif, inovatif, dan memiliki keberanian memimpin perubahan.

Karena itu, suksesi kepemimpinan perguruan tinggi harus dibaca sebagai kebutuhan sejarah, bukan sekadar pergantian jabatan.

Advertisement

Kampus membutuhkan pemimpin yang bukan hanya memahami tata kelola akademik, tetapi memiliki visi masa depan dan keberanian melakukan transformasi.

Dunia pendidikan tinggi membutuhkan pemimpin yang inklusif, terbuka terhadap kolaborasi, dekat dengan aspirasi generasi muda, serta mampu menjadikan kampus sebagai ruang tumbuh bersama, bukan ruang eksklusif segelintir kelompok.

Namun, harus ditegaskan bahwa tuntutan akan pemimpin muda tidak boleh dipahami secara dangkal sebagai soal angka usia semata. Perguruan tinggi tidak membutuhkan sekadar figur muda, tetapi figur yang memiliki rekam jejak integritas, kapasitas akademik, dan riwayat kepemimpinan yang teruji.

Mampu berkolaborasi dengam seluruh unsur masyarakat dan pemerintah serta tidak memandang inklusifitas hanya sebagai slogan, sehingga mampu mewujudkan kampus berdampak secara terukur dan optimal.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kalteng PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Usai Dugaan Skandal Konferensi Denmark Viral, Rifaldy dan Tim Akhirnya Buka Suara

Usai Dugaan Skandal Konferensi Denmark Viral, Rifaldy dan Tim Akhirnya Buka Suara

Polemik dugaan pemalsuan identitas dan fabrikasi riset yang menyeret nama sejumlah peserta asal Indonesia dalam ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026.

UPR Tawarkan Ide atasi Kesenjangan PTN di Jawa dan Luar Jawa

UPR Tawarkan Ide atasi Kesenjangan PTN di Jawa dan Luar Jawa

Kesenjangan antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jawa dengan Luar Pulau Jawa, sampai sekarang masih terjadi

Calon Rektor UPR Harus Penuhi Syarat ini, Selain Sudah S-3, ini Syarat Lainnya

Calon Rektor UPR Harus Penuhi Syarat ini, Selain Sudah S-3, ini Syarat Lainnya

Pendaftaran Bakal Calon Rektor Universitas Palangka Raya periode 2026-2030 akan dibuka Selasa (12/5/2026).

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer