
KALTENGPOS.JAWAPOS.COM- pemburu di hutan meletakkan beberapa butir kacang ke dalam sebuah kendi berleher sempit. Tak lama kemudian, seekor monyet datang dan menemukan "harta karun" itu.
Dengan cepat ia memasukkan tangannya ke dalam kendi dan menggenggam kacang sebanyak mungkin. Namun ketika hendak menarik tangannya keluar, ia gagal.
Tangannya masuk dengan mudah saat terbuka, tetapi tidak bisa keluar ketika mengepal. Semakin banyak kacang yang digenggam, semakin sulit pula tangannya dilepaskan.
Monyet itu menarik, meronta, dan berusaha sekuat tenaga. Kendi bergoyang ke sana kemari. Debu beterbangan. Tenaganya terkuras.
Padahal masalahnya bukan pada kendi. Masalahnya ada pada pilihannya.
Jika ia rela melepaskan sebagian atau seluruh kacang itu, tangannya akan bebas dalam hitungan detik.
Kisah ini sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan manusia.
Betapa banyak orang yang hidupnya habis untuk mengejar "kacang-kacang dunia". Harta, jabatan, popularitas, pujian manusia, kemewahan, dan berbagai kenikmatan sesaat menjadi fokus utama kehidupannya.
Pagi hingga malam tenaga dicurahkan untuk urusan dunia. Pikiran dipenuhi target materi. Waktu dihabiskan untuk menambah penghasilan, memperluas usaha, atau mengejar pengakuan. Semua itu tentu tidak salah, karena Islam tidak melarang umatnya bekerja dan mencari rezeki.
Yang menjadi persoalan adalah ketika dunia berpindah dari tangan ke dalam hati. Ketika urusan dunia membuat seseorang lalai salat.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

