Debat akan disiarkan live dikanal Youtube KPU Barito Utara, klik link di bawah ini:
https://www.youtube.com/watch?v=-Uckj2PG6nw
Dua paslon, yakni Shalahuddin-Felix vs Jimmy-Inriaty, akan beradu gagasan serta visi-misi demi meraih kepercayaan masyarakat.
Debat ini diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Barito Utara sebagai bagian dari tahapan Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Batara.
Momen ini menjadi kesempatan penting bagi rakyat untuk menilai langsung kemampuan kepemimpinan dan arah kebijakan yang ditawarkan masing-masing kandidat.
Melalui debat terbuka ini, publik diharapkan lebih memahami program prioritas yang diusung kedua paslon. Selain itu, debat juga menjadi sarana transparansi dan edukasi politik bagi masyarakat dalam menentukan pemimpin masa depan Batara.
Hindari Jargon Kosong
Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR) Farid Zaki berpandangan bahwa para paslon sebaiknya tampil dengan etos kepemimpinan yang tenang namun tegas, santun tapi tidak permisif. Hindari gaya teatrikal atau jargon kosong yang sering menjadi hiburan sementara namun miskin arah kebijakan.
"Yang dibutuhkan publik Barito Utara adalah calon pemimpin yang punya visi jelas, grounded pada realitas lokal, dan mampu menyampaikan gagasan secara sistematis dan dapat dipercaya,'' tegas Farid Zaky, Kamis (24/7/2025).
Ia menambahkan penting juga untuk menunjukkan kompetensi substansi, bukan sekadar retorika. Jangan sekadar menyebutkan “akan bangun infrastruktur” tapi uraikan: di mana, kenapa, bagaimana pendanaannya, dan siapa yang akan diuntungkan.
Dam juga tampil dengan data, empati pada rakyat kecil, serta strategi implementatif adalah kunci menonjolkan kredibilitas.
Selain itu ia menambahkan Batara adalah wilayah dengan sumber daya alam yang melimpah tapi kesejahteraan belum merata. Maka, isu yang relevan untuk diangkat adalah Pemerataan ekonomi dan keadilan sumber daya: Bagaimana tambang, kehutanan, dan potensi agro dapat dikelola untuk rakyat, bukan hanya oligarki lokal atau perusahaan besar.
Kesehatan dan pendidikan dasar yang merata, terutama untuk masyarakat adat dan wilayah pedalaman.
Infrastruktur konektivitas antar desa, bukan hanya pembangunan simbolik di kota. Reformasi birokrasi dan integritas pejabat daerah.
"Jika seorang paslon hendak berjanji, jangan janjikan “akan” secara abstrak. Katakan: kapan, melalui mekanisme apa, dan dengan indikator keberhasilan yang bisa diukur. Misalnya, “Dalam 2 tahun pertama, kami akan mempercepat akses jalan di 5 desa terpencil melalui skema Dana Alokasi Khusus Infrastruktur, dengan progres bulanan yang bisa dipantau publik,” tegas Farid.
Dan pada debat ia menyebutkan dalam demokrasi, kritik itu wajar asal berbasis fakta dan menyasar kebijakan, bukan pribadi. Saling serang bisa menjadi bagian dari pendidikan politik jika digunakan untuk menguji integritas dan kapabilitas lawan, bukan sekadar adu mulut populis.
Namun, perlu hati-hati: jika debat hanya jadi ajang menyerang pribadi atau menyebar hoaks, itu justru merusak kepercayaan publik terhadap demokrasi lokal. Debat seharusnya memperkuat literasi politik masyarakat, bukan memperdalam polarisasi.
"Jadi, kalau ingin "menyerang", seranglah gagasan lawan yang tidak logis, janji yang tidak realistis, atau rekam jejak yang bertentangan dengan klaim mereka. Kritik berbasis data adalah senjata paling sahih dalam demokrasi,'' tegasnya. (ren/cah/irj/zia/*rif/ala)