MUARA TEWEH – Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Barito Utara (Batara) menggelar pertemuan kolektif di ruang kelas SDN 4 Melayu, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara, pada Kamis (12/2/2026).
Forum profesional guru SD setingkat gugus ini mengangkat tema pemanfaatan kecerdasan buatan dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPM).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh enam sekolah anggota gugus, yakni SDN 1 Melayu, SDN 2 Melayu, SDN 3 Melayu, SDN 4 Melayu, SDN 3 Lanjas, dan SD Muhammadiyah.
KKG Gugus Batara selama ini menjadi wadah peningkatan kompetensi pedagogik dan profesional guru melalui berbagai agenda, seperti diskusi kurikulum, lokakarya, pelatihan implementasi kurikulum merdeka, pembuatan alat peraga, hingga bedah masalah pembelajaran.
Pada pertemuan kali ini, kegiatan difokuskan pada penguatan kapasitas guru dalam mengadaptasi teknologi digital untuk mendukung efisiensi kerja administrasi.
Narasumber yang dihadirkan adalah Fatma Rahmawati, guru dari SDN 2 Melayu. Ia memaparkan materi berjudul “Pembuatan RPM Menggunakan AI” dan memperkenalkan aplikasi Generator RPM 2026 AI.
Aplikasi ini dikembangkan sendiri oleh Fatma sebagai respons terhadap keluhan guru yang selama ini terbebani oleh tuntutan administrasi pembelajaran. Ia menilai tekanan dari supervisor Platform Merdeka Mengajar (PMM) kerap membuat guru lebih banyak berperan sebagai admin ketimbang pendidik.
“Berkas yang biasanya memakan waktu berjam-jam dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit. Ini menciptakan efisiensi bagi guru, dan hasil yang dihasilkan AI tidak generik atau sekadar template,” ujar Fatma.
Ia menjelaskan, aplikasi tersebut mengusung teknologi smart logic injection dan context aware generator yang mampu menghasilkan dokumen pembelajaran secara kontekstual.
“Cukup tiga langkah: isi data, masukkan topik, dan klik generate. Maka RPM siap digunakan,” tambahnya.
Kepala SDN 4 Melayu, Darmansyah, selaku tuan rumah, menyambut baik materi yang disampaikan. Menurutnya, teknologi bukanlah sesuatu yang patut ditolak, melainkan disikapi secara bijak.
“Bisa dikatakan, kita tidak bisa membenci kemajuan peradaban. Selagi penggunaan AI tepat dan disertai evaluasi, hal itu akan membantu memudahkan pembuatan RPM,” katanya.
Darmansyah menegaskan bahwa kehadiran AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran guru.
“Teknologi hanya alat. Guru tetap penentu kualitas pembelajaran. Pemanfaatannya harus bijak dan berorientasi pada kebutuhan siswa,” imbuhnya.
Kegiatan ini diharapkan mampu memberi dampak nyata terhadap peningkatan mutu pembelajaran di lingkungan Gugus Batara. Darmansyah juga berharap inovasi serupa terus bermunculan dari forum-forum guru.
“Semoga inovasi seperti ini terus lahir dari KKG dan menjadi inspirasi bagi gugus-gugus lain di Barito Utara,” tutupnya. (ren/ram)
Editor : Ayu Oktaviana