Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Sawit Komoditas Strategis Nasional: Paling Efisien, Produktif, dan Berkelanjutan Serta Dampak Lingkungan Lebih Rendah

Agus Pramono • Senin, 23 Februari 2026 | 13:05 WIB

Rawing Rambang berbicara terkait sisi positif sawit yang banyak orang tidak tahu.
Rawing Rambang berbicara terkait sisi positif sawit yang banyak orang tidak tahu.

 

PALANGKA RAYA — Kelapa sawit kembali ditegaskan sebagai komoditas strategis nasional yang tidak hanya menjadi penopang ekonomi Indonesia, tetapi juga dinilai sebagai minyak nabati paling efisien dan berkelanjutan di dunia.

Di tengah maraknya kampanye hitam (black campaign) terkait isu lingkungan, berbagai data ilmiah justru menunjukkan keunggulan sawit dari sisi produktivitas, efisiensi lahan, hingga emisi karbon.

Pengamat perekonomian dan perkebunan sekaligus mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, Dr. Ir. Rawing Rambang, M.P., menegaskan bahwa penilaian terhadap kelapa sawit harus dilakukan secara adil dan berbasis data ilmiah.

“Kalau kita bicara lingkungan, maka pembandingnya harus sepadan. Jangan sawit saja yang disorot, sementara minyak nabati lain tidak dihitung secara objektif. Secara ilmiah, sawit justru paling efisien,” ujar Rawing, Senin (16/2/2026).

Sawit Kuasai Produksi Minyak Nabati Dunia

Secara global, terdapat empat minyak nabati utama yang menguasai sekitar 90 persen produksi dan konsumsi dunia, yaitu:
• Minyak sawit
• Minyak kedelai
• Minyak rapeseed
• Minyak bunga matahari

Pada 2024, minyak sawit menempati posisi teratas dengan kontribusi sekitar 40 persen, disusul minyak kedelai 28 persen, rapeseed 15 persen, dan minyak bunga matahari 10 persen.

Pertumbuhan produksi sawit yang pesat sejak awal 2000-an bahkan telah menggeser dominasi minyak kedelai yang sebelumnya menguasai pasar minyak nabati dunia hampir satu abad.

“Sekarang sekitar 60 persen minyak nabati dunia berasal dari sawit. Ini menunjukkan daya saing dan keunggulan komoditas ini,” jelas Rawing.

Paling Hemat Lahan dan Produktivitas Tertinggi

Keunggulan utama kelapa sawit terletak pada produktivitasnya. Untuk menghasilkan satu ton minyak, kelapa sawit hanya membutuhkan sekitar 0,3 hektare lahan.

Sebagai perbandingan:
• Minyak bunga matahari membutuhkan sekitar 1,3 hektare
• Minyak rapeseed sekitar 1,4 hektare
• Minyak kedelai hingga 2,1 hektare

Artinya, produktivitas sawit bisa empat hingga tujuh kali lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya.

“Dengan produktivitas setinggi itu, sawit justru menghemat lahan dan lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Efisiensi lahan ini dinilai mampu menekan kebutuhan pembukaan area baru secara signifikan dibandingkan komoditas lain yang memerlukan lahan jauh lebih luas.

Studi Ilmiah: Emisi dan Dampak Lingkungan Lebih Rendah

Sejumlah studi internasional juga menunjukkan bahwa produksi minyak sawit menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan minyak nabati lain.

Studi Food and Agriculture Organization (FAO) pada 2013 menemukan bahwa produksi minyak sawit menghasilkan polutan, residu pestisida, dan pupuk lebih sedikit dibandingkan produksi minyak rapeseed dan kedelai.

“Secara data, sawit itu lebih sustainable. Jadi tudingan bahwa sawit perusak lingkungan tidak sepenuhnya benar dan perlu diluruskan,” tegas Rawing.

Pengembangan Sawit Indonesia Berbasis Keberlanjutan

Di Indonesia, pengembangan sawit dilakukan melalui penerapan standar Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Skema ini mengatur aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara ketat.

Menurut Rawing, pengembangan sawit tidak dilakukan di kawasan konservasi, menghormati hak masyarakat adat, serta melibatkan masyarakat dalam rantai produksi.

“Kita membangun sawit untuk jangka panjang, 20 sampai 30 tahun ke depan,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa banyak perkebunan sawit nasional memanfaatkan lahan kritis dan terdegradasi, sehingga tidak identik dengan deforestasi seperti yang kerap dituduhkan.

Kontributor Devisa dan Penggerak Ekonomi Daerah

Selain menjadi penyumbang devisa ekspor nonmigas, sawit juga berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Di Kalimantan Tengah, luas perkebunan sawit mencapai sekitar 2,3 juta hektare, menjadikannya provinsi dengan luas sawit terbesar kedua di Indonesia setelah Riau.

“Daerah yang berkembang sawitnya, pertumbuhan ekonominya lebih baik dan masyarakatnya lebih sejahtera. Ini fakta yang bisa dilihat langsung,” ujarnya.

Sawit dan Masyarakat Bisa Tumbuh Bersama

Rawing mengajak seluruh pihak untuk tidak terjebak pada narasi negatif yang tidak utuh, melainkan menilai sawit secara rasional dan berbasis data.

Menurutnya, jika ada persoalan di lapangan, solusi harus ditempuh melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, pengusaha, dan masyarakat.

“Kalau pertanyaannya minyak nabati apa yang paling efisien dan dampaknya paling kecil terhadap lingkungan, jawabannya jelas, kelapa sawit,” pungkasnya.

Dengan keunggulan produktivitas, efisiensi lahan, kontribusi ekonomi, serta dukungan standar keberlanjutan, kelapa sawit dinilai tetap menjadi komoditas strategis nasional yang rasional dan relevan bagi kebutuhan dunia saat ini.(ovi/ram)

Editor : Ayu Oktaviana
#penyerapan tenaga kerja #black campaign #sustainable #KOMODITAS STRATEGIS #rawing rambang #Palm oil #kelapa sawit #pertumbuhan ekonomi #minyak sawit #emisi karbon #kontribusi ekonomi #ramah lingkungan #perkebunan sawit #minyak nabati #masyarakat adat