Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Gubernur Agustiar Sabran Diminta Turun Tangan Atasi Harga Buah Sawit yang Anjlok

Miftahul Ilma • Sabtu, 23 Mei 2026 | 15:30 WIB
Tumpukan buah sawit di tengah harganya anjlok.Facebook.
Tumpukan buah sawit di tengah harganya anjlok.Facebook.

SAMPIT – Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) membuat para petani terpukul. Padahal sektor kelapa sawit menjadi salah satu investasi yang besar di bidang perekonomian. 

Terkait itu, Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Irawati, meminta Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah tidak tinggal diam melihat harga TBS sawit yang anjlok dalam beberapa hari terakhir. Ia menilai kondisi itu mulai membuat petani kecil menjerit.

Menurut Irawati, laporan dari masyarakat terus berdatangan ke pemerintah daerah. Bahkan di sejumlah wilayah, harga sawit di tingkat pengepul disebut jatuh sangat drastis.

“Banyak laporan dari warga, karena kita tidak tahu (harga turun). padahal Pak Presiden baru pidato tanggal 20 kalau tidak salah, malamnya sudah turun harga sawit,” katanya, Sabtu (23/5/2026).

Ia menyebut di wilayah Pulau Hanaut ada pengepul yang membeli sawit masyarakat hanya sekitar Rp1.000 per kilogram. Sementara harga tertinggi hanya berkisar Rp1.700-Rp1.750 per kilogram.

“Padahal sebelumnya hampir Rp3.000, Rp2.800 sampai Rp3.000. Itu kasihan masyarakat,” ujarnya.

Irawati berharap Gubernur Kalimantan Tengah bisa membantu menyuarakan kondisi tersebut ke pemerintah pusat. Terlebih, kata dia, kebijakan tata niaga sawit saat ini berkaitan dengan kebijakan satu pintu dari pemerintah pusat melalui BUMN. Padahal aturan tersebut direncanakan terbit 1 Juni mendatang.

“Setidaknya melalui gubernur itu bisa lah bagaimana mendorong agar harga kelapa sawit tidak terlalu anjlok,” katanya.

Menurutnya, jika harga sawit terus turun, maka dampaknya akan terasa langsung terhadap ekonomi daerah.

Terlebih lagi, Kotim merupakan salah satu daerah dengan perkebunan sawit terbesar di Kalimantan Tengah dan penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar. Karena itu, penurunan harga sawit akan sangat mempengaruhi perputaran ekonomi masyarakat.

“Kotim ini termasuk penyumbang PDRB terbesar di provinsi Kalimantan Tengah. Jadi mohon diperhatikan,” ujarnya.

Irawati juga khawatir kondisi tersebut membuat petani semakin terpuruk di tengah tingginya harga pupuk dan kebutuhan produksi lainnya.

“Kalau harga sawit ini terus menurun, petani kita terancam gulung tikar,” tandasnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
#tandan buah segar (TBS) #pupuk #sawit #kelapa sawit #kotawaringin timur