SAMPIT – Ketersediaan Minyakita di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dipastikan masih aman. Namun, harga minyak goreng bersubsidi tersebut justru masih tinggi di pasaran dan menjadi salah satu penyumbang inflasi daerah. Kondisi ini diduga dipengaruhi oleh penurunan pasokan ke mitra distribusi serta pola penyaluran.
Manajer PT Sukajadi Sawit Mekar (SSM) Bagendang, Zul Hendro, menjelaskan produksi minyak goreng perusahaan mengalami penurunan sekitar lima persen akibat penyesuaian kuota ekspor. Karena itu, sejak awal Juni seluruh alokasi Minyakita diarahkan ke Bulog.
Baca Juga: Ironis Sekali! Kabupaten Kotim Penghasil Sawit Terbesar, Minyak Goreng Malah Picu Inflasi
“Pendistribusian sebenarnya lancar. Memang produksi ada menurun sedikit karena kami menyesuaikan kuota ekspor. Dari awal bulan ini sampai Juni, pasokan lebih banyak kami alokasikan ke Bulog karena produksi sedang menurun,” kata Zul Hendro saat mendampingi kunjungan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kotim di Bagendang, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, kebijakan tersebut dilakukan karena Minyakita merupakan bagian dari kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) yang harus dipenuhi perusahaan sebelum melakukan ekspor produk sawit.
“Minyakita ini bagian dari kewajiban DMO. Jadi kalau kami ingin melakukan ekspor, ada kewajiban untuk memenuhi kuota kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu,” ujarnya.
Baca Juga: Inflasi Kotim Meningkat, Wabup Irawati Sidak Elpiji Subsidi dan Minyakita
Zul mengungkapkan, sebelum produksi menurun, perusahaan masih mampu mendistribusikan Minyakita melalui Bulog dan sejumlah jaringan distribusi lainnya di Kotim maupun Kalimantan Tengah.
Namun kini seluruh pasokan diarahkan ke Bulog.
“Karena kuota produksi kami turun, saat ini kami tidak memberikan pasokan ke jaringan distribusi lainnya. Semuanya kami fokuskan ke Bulog terlebih dahulu,” tegasnya.
Meski stok dari sisi produsen dinilai aman, Wakil Bupati Kotim Irawati menemukan persoalan lain saat melakukan inspeksi lapangan. Ia menilai harga Minyakita yang masih tinggi lebih banyak dipengaruhi pola distribusi hingga ke tingkat pedagang.
Baca Juga: Inflasi Kotim 4,18 Persen, Wabup Ajak Warga Laporkan Jika Ada Penimbunan Elpiji dan Minyakita
“Stok aman, tetapi yang menjadi perhatian kami adalah cara penyalurannya. Jangan sampai terlalu banyak tempat singgahnya. Kalau memang dari produsen langsung ke Bulog dan dari Bulog ke mitra, maka harus dipastikan distribusinya berjalan lancar,” kata Irawati.
Ia mengaku heran karena Kotim merupakan salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia, namun minyak goreng justru menjadi komoditas penyumbang inflasi.
“Saya merasa aneh juga. Kotim ini penghasil sawit terbesar, tetapi minyak goreng justru menjadi penyumbang inflasi. Setelah kami turun ke lapangan, ternyata ada persoalan pada pola distribusinya,” ungkapnya.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Harga Bawang hingga Minyak Goreng Merangkak Naik di Sampit
Dari hasil pengecekan, Irawati memperoleh informasi bahwa jatah pasokan Minyakita kepada mitra Bulog mengalami pengurangan. Jika sebelumnya satu kali pengiriman mencapai sekitar 50 dus, kini hanya sekitar 20 dus.
“Dulu mitra mendapatkan sekitar 50 dus setiap pengiriman, sekarang hanya sekitar 20 dus. Dari situ kemudian terjadi kelangkaan di tingkat pedagang dan harga menjadi naik,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Kotim berencana menggelar rapat bersama Bulog dan pihak terkait untuk mencari solusi distribusi. Harapannya, pasokan Minyakita tetap terjaga dan harga di tingkat konsumen dapat kembali terkendali sehingga tidak lagi menjadi pemicu inflasi daerah.
“Kami akan rapat lagi setelah sidak ini. Fokusnya bagaimana pengaturan distribusi Minyakita kepada mitra yang sudah terdaftar di Bulog bisa lebih baik,” pungkasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana