SAMPIT – Minat masyarakat, terutama kalangan muda, terhadap investasi terus berkembang. Namun sebelum menanamkan dana, pemula diminta tidak terburu-buru mengejar keuntungan tanpa memahami risiko dari instrumen investasi yang dipilih.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Tengah (Kalteng) Primandanu Febriyan Aziz mengatakan, langkah pertama bagi investor pemula adalah memahami produk yang akan dibeli. Menurutnya, setiap instrumen investasi memiliki karakteristik dan risiko berbeda.
“Untuk pemula, kami sarankan tentunya sebelum berinvestasi harus mengenali, harus memahami apa yang akan diinvestasikan. Apapun itu, mau itu reksadana, mau itu saham, apapun itu. Bahkan investasi emas, sekarang juga ada tabungan emas,” katanya saat berada di Sampit, Rabu (24/6/2026).
Ia menilai, pemahaman menjadi hal penting agar masyarakat tidak hanya mengikuti tren atau ajakan orang lain. Keputusan investasi harus berdasarkan pengetahuan, bukan sekadar melihat orang lain mendapatkan keuntungan.
Selain memahami produk, Primandanu menyarankan investor pemula memulai dengan nominal kecil. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat dapat belajar sekaligus mengenali risiko investasi.
“Yang kedua, mulai dari yang kecil. Jadi jangan euforia, dengar teman ada yang sudah untung sekian persen dan cuan sekian persen, langsung investasi banyak. Jangan,” ujarnya.
Menurutnya, investasi selalu memiliki risiko sehingga masyarakat perlu menggunakan dana yang tidak mengganggu kebutuhan utama. Ia menyebut dana yang digunakan sebaiknya merupakan “uang dingin”.
“Pastikan dana yang diinvestasikan itu istilahnya uang dingin. Uang dingin itu maksudnya memang sisa uang yang memang, namanya juga investasi kan pasti ada risiko,” jelasnya.
Primandanu menegaskan, tidak ada investasi yang benar-benar tanpa risiko. Karena itu, dana investasi sebaiknya bukan berasal dari uang kebutuhan sehari-hari atau pinjaman.
“Tidak ada ceritanya investasi tidak ada risiko. Kalau risikonya ternyata belum menghasilkan, itu bukan porsi uang yang menjadi kebutuhan hidup kita yang pokok,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan dana pinjaman untuk berinvestasi karena dapat memperbesar risiko kerugian.
“Kalau uang panas itu bukan lagi uang pokok, mungkin malah itu pinjaman. Itu sangat tidak disarankan,” tegasnya.
Sementara itu, terkait kondisi perekonomian yang masih menghadapi berbagai tantangan, Primandanu menyebut perkembangan investasi pasar modal masih mengalami tekanan. Meski demikian, pergerakan pasar sempat menunjukkan penguatan.
“Kalau memang melihat secara grafik, trennya masih terkontraksi untuk sektor pasar modal, meskipun kemarin sempat rebound kembali di angka 6.000 level IHSG,” katanya.
Ia berharap masyarakat tetap bijak dalam berinvestasi dengan mempertimbangkan kondisi keuangan pribadi dan tidak mengambil keputusan secara emosional.
“Jadi harus dipahami, mulai dari yang kecil dan pastikan uang yang digunakan untuk investasi adalah betul-betul porsi uang yang aman,” pungkasnya. (*)
Editor : Agus Pramono