BANJARMASIN – Proses pemulihan unit-unit pembangkit pada Sistem Interkoneksi Kalimantan terus berlangsung. PLN bersama pengelola pembangkit mengerahkan personel dan memperkuat koordinasi untuk mempercepat penyelesaian setiap tahapan pekerjaan dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kualitas.
Saat ini, pekerjaan difokuskan pada unit-unit pembangkit yang mengalami gangguan agar dapat kembali beroperasi secara bertahap setelah seluruh proses pengujian dinyatakan aman.
Assistant Manager Transaksi Energi Listrik PLN UP3 Banjarmasin, Akhyar Rifani, menyampaikan tahapan pemilihan sistem kelistrikan Kalselteng, kepada Aliansi Pemuda Kota Banjarmasin yang menggeruduk Kantor PLN UP3 Banjarmasin di Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Selasa (28/7/2026).
“Satu unit pembangkit dijadwal kan mulai masuk sistem pada 30 Juli, sehingga durasi pemadaman diproyeksikan berkurang dari sekitar lima jam menjadi tiga jam,” ujar Ahyar, seperti diberitakan Radar Banjarmasin (Grup Kalteng Pos).
Saat satu unit pembangkit masuk sistem pada 30 Juli, maka durasi pemadaman diproyeksikan berkurang dari sekitar lima jam menjadi tiga jam.
Kemudian, pembangkit PLTU Asam-Asam dijadwalkan kembali beroperasi pada 29 Agustus. Tambahan daya tersebut diharapkan membuat sistem kelistrikan Kalselteng pulih sepenuhnya pada awal September.
"Harapan kami, setelah seluruh pembangkit kembali masuk sistem, awal September kondisi kelistrikan Kalselteng sudah normal," katanya.
Baca Juga: Ini Penjelasan GM PLN Kalselteng Soal Pemadaman Bergilir yang Kembali Terjadi di Kalsel dan Kalteng
Akhyar menyebut saat ini sistem kelistrikan Kalselteng masih mengalami defisit daya sekitar 170 megawatt (MW). Khusus wilayah Banjarmasin, kuota pemadaman bergilir mencapai sekitar 30 MW.
Dia optimistis pemadaman terencana dapat dihentikan mulai awal Agustus. Meski demikian, PLN tetap mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan yang bersifat insidental.
Di sisi lain, Assistant Manager Niaga dan Pemasaran PLN UP3 Banjarmasin, Hendy Syaifuddin menyampaikan permohonan maaf. Menurutnya, sistem kelistrikan di Kalimantan terhubung dalam satu jaringan interkoneksi, mulai dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur hingga Kalimantan Utara.
Karena itu, gangguan pada satu pembangkit akan berdampak terhadap pasokan listrik di seluruh sistem.
"Sejak dua minggu lalu seharusnya kondisi sudah normal. Namun kembali terjadi gangguan pembangkit sehingga berdampak pada sistem interkoneksi," ujarnya
Ia menjelaskan, PLN saat ini masih melakukan perbaikan di sejumlah pembangkit, di antaranya PLTU Asam-Asam, PLTD Kuala Kurun, PLTU Tanjung Power Indonesia, serta pembangkit di wilayah Gunung Mas.
Akibatnya, sistem kelistrikan Kalselteng masih mengalami defisit daya. Saat ini, kebutuhan listrik masyarakat disebut lebih tinggi dibanding kemampuan pasokan pembangkit yang tersedia.
"Kondisi sekarang masih defisit. Artinya pemakaian masyarakat lebih besar dibanding kemampuan pembangkit yang tersedia," jelasnya.
Selama masa defisit tersebut, PLN juga melakukan pendekatan kepada pelanggan-pelanggan besar agar bersedia menurunkan konsumsi listrik sementara waktu.
Langkah itu dilakukan agar distribusi listrik kepada masyarakat dapat lebih optimal hingga seluruh pembangkit kembali beroperasi
Saat aksi unjuk rasa Aliansi Pemuda Kota Banjarmasin menuntut pemulihan secara cepat dan peluang kompensasi, mereka juga menyinggung dampak pemadaman bergilir yang membuat masyarakat merugi baik secara materil maupun non materiil.
Perwakilan massa aksi, Ahmad Sunir Ridha menegaskan, masyarakat tidak hanya menginginkan kompensasi berupa potongan tagihan listrik, tetapi juga ganti rugi secara materiil atas kerugian yang ditimbulkan akibat pemadaman. (*)
Editor : Agus Pramono