SAMPIT – Kebun Sungai Bahaur Estate (SBHE) milik Bumitama Gunajaya Agro (BGA Group) mencatat hasil menggembirakan pada panen perdana tanaman hasil peremajaan. Beroperasi di atas lahan yang tergolong marginal di Desa Selucing, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), produktivitas kebun justru melampaui target perusahaan.
Pada fase panen awal (scout harvesting), SBHE menargetkan produksi lebih dari 9 ton per hektare. Namun realisasinya mencapai 12,71 ton per hektare, atau lebih dari 40 persen di atas target.
Capaian tersebut berlanjut saat tanaman memasuki fase Tanaman Menghasilkan pertama (TM 1). Dari target di atas 18 ton per hektare, kebun mampu menghasilkan 24,68 ton per hektare, atau sekitar sepertiga lebih tinggi dari sasaran.
Keberhasilan itu dinilai menjadi bukti bahwa lahan dengan karakteristik Dystrudepts yang selama ini dikenal sebagai lahan marginal tetap mampu menghasilkan produktivitas tinggi apabila dikelola dengan praktik agronomi yang tepat dan berkelanjutan.
Estate Manager SBHE, Ponsius Wiro mengatakan, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses peremajaan kebun yang dilakukan secara terencana sejak 2022, disertai penerapan budidaya yang konsisten mulai dari persiapan lahan hingga tanaman memasuki masa produksi.
“Keberhasilan peremajaan bukan diukur dari seberapa cepat tanaman kembali menghasilkan, melainkan dari kemampuan membangun produktivitas yang berkelanjutan sejak hari pertama tanaman ditanam,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).
SBHE mengelola hampir 4.000 hektare areal yang terdiri atas kebun inti dan plasma masyarakat. Program peremajaan dilakukan secara bertahap terhadap tanaman yang telah berusia lebih dari dua dekade karena produktivitasnya mulai menurun dan tinggi pohon sudah menyulitkan proses panen.
Perusahaan juga melibatkan kebun plasma dalam program tersebut melalui kerja sama dengan koperasi. Sebagian peremajaan plasma mendapat dukungan dari Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), sehingga manfaat peningkatan produktivitas tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga pekebun mitra.
Untuk menjaga produktivitas di lahan marginal, SBHE menerapkan berbagai upaya konservasi sejak awal peremajaan. Biomassa tanaman lama dikembalikan ke lahan sebagai bahan organik untuk memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kemampuan menyimpan air.
Selain itu, perusahaan menggunakan varietas unggul, menerapkan pemupukan berimbang antara pupuk anorganik dan organik, serta menjaga keberadaan serangga penyerbuk alami sebagai bagian dari pengelolaan ekosistem kebun.
Selain meningkatkan hasil produksi, program peremajaan juga memberikan manfaat lain berupa meningkatnya keselamatan kerja karena tanaman yang lebih pendek lebih mudah dipanen, sekaligus menjaga keberlanjutan kualitas lahan melalui penerapan prinsip konservasi tanah dan air.
Keberhasilan Sungai Bahaur Estate menjadi salah satu contoh bahwa keterbatasan kondisi lahan tidak selalu menjadi penghalang untuk mencapai produktivitas tinggi.
“Dengan strategi budidaya yang tepat, peremajaan yang terencana, dan kolaborasi bersama pekebun plasma, lahan marginal mampu memberikan hasil yang kompetitif sekaligus mendukung keberlanjutan industri kelapa sawit,” pungkasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana