SAMPIT – Musim kemarau panjang membawa pukulan ganda bagi petani di Jalan Sriwijaya III, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Bukan hanya tanaman yang menguning akibat kekurangan air, petani juga harus menghadapi ancaman kebakaran lahan yang berada di sekitar kebun.
Baca Juga: Langit Pelantaran Memerah Tadi Malam, Api Karhutla Membesar hingga Ancam Permukiman
Kondisi itu dialami Muhammad Hasan, petani setempat. Selama lebih dari dua bulan terakhir, hasil pertaniannya terus menurun. Dalam kondisi normal, hasil penjualan bahkan bisa mencapai sekitar Rp300 ribu per hari. Namun kini, penghasilan yang diperoleh hanya berkisar Rp100 ribu hingga Rp125 ribu.
“Ekonomi menurun. Tanaman juga enggak sehat, kuning, kekurangan air, tambah lagi cuaca panas. Ekonomi agak-agak tidak seperti dulu lagi,” katanya saat ditemui Rabu (2/9/2026).
Ia menuturkan, kemarau panjang membuat hasil panen sejumlah komoditas pertaniannya tidak maksimal. Di lahan seluas sekitar setengah hektare itu, Hasan menanam beragam jenis sayuran dan tanaman hortikultura seperti kangkung, sawi, bayam, tomat, cabai hingga kemangi.
Baca Juga: Langkah Pemprov Kalteng Usai Tanggap Darurat Karhutla, Bangun Sumur Bor, Rp72 Miliar Siap Dipakai
Salah satu penyebab utama menurunnya produksi adalah kekurangan air. Hasan mengaku tanaman membutuhkan penyiraman lebih intensif agar tetap hidup di tengah cuaca panas. Jika sebelumnya kebutuhan air dapat dipenuhi lebih cepat, kini proses penyiraman bisa memakan waktu sedikitnya dua jam.
Untuk menyiram tanaman selama dua jam, ia membutuhkan sekitar dua liter bahan bakar Pertalite untuk mengoperasikan mesin pompa air. Kondisi itu membuat biaya produksi ikut membengkak di tengah hasil panen yang justru merosot.
Hasan juga telah membuat sumur sendiri untuk memenuhi kebutuhan air kebun. Namun, air yang tersedia sangat terbatas. Sumur tersebut hanya mampu menyediakan air sekitar satu jam penyiraman sebelum kembali mengering dan harus menunggu air terkumpul lagi.
“Ya saya bikin sendiri kemarin (sumurnya). Tapi nyiramnya satu jam habis,” katanya.
Ia menjelaskan, sumur tersebut bukan sumber air yang terus mengalir, melainkan hanya mengandalkan air yang tertampung di dalamnya. Meski begitu, untuk sementara kebutuhan air masih dapat dipenuhi secara bertahap.
“Dia nampung air bukan sumber, jadi sedikit-sedikit airnya,” ujarnya.
Di tengah persoalan kekeringan, petani ini juga harus menjaga kebunnya dari ancaman api. Kebakaran lahan di belakang lokasi pertanian telah berlangsung sekitar satu pekan. Hasan bersama warga setempat berupaya menjaga agar api tidak menjalar ke kebun.
Baca Juga: Puluhan Ribu Liter Air Bersih Kembali Didistribusikan ke Pulau Hanaut Kotim
“Saya yang jaga, sebab takut ke sini apinya. Kan apinya dari samping, langsung menjalar menjalar ke sini,” katanya.
Karena keterbatasan air, upaya penanganan dilakukan secara manual dan seadanya. Hasan mengatakan api masih muncul di beberapa titik, terutama saat cuaca panas.
“Masih ada sedikit-sedikit apinya, tapi enggak membahayakan. Kita bantu aja manual, seadanya,” ujarnya.
Untuk mencegah api kembali membesar dan merambat ke lahan pertanian, Hasan berjaga sejak sekitar pukul 09.00 hingga pukul 17.00 WIB. Pada malam hari, ia juga masih melakukan pengecekan hingga sekitar pukul 22.00 WIB.
“Ini kan panas, api bisa hidup lagi. Kadang-kadang malam juga dikontrol,” katanya.
Hasan mengaku kebakaran sejauh ini belum merusak tanaman karena dilakukan penjagaan ketat. Namun, dengan kondisi kemarau, kekurangan air, biaya produksi yang meningkat dan hasil panen yang menurun, ancaman terhadap keberlangsungan pertanian masih terus membayangi.
“Kalau misal bagus, normal, kangkung bisa 100 ikat. Sekarang 50 atau 40 karena turun,” pungkasnya. (*)