Pertamina Beberkan Penyebab Antrean BBM Mengular di SPBU yang Ada di Palangka Raya

rifqi • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 12:30 WIB
Antrean BBM di sejumlah SPBU.(Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com)
Antrean BBM di sejumlah SPBU.(Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com)

PALANGKA RAYA – Antrean panjang kendaraan kembali mengular di sejumlah SPBU di Kota Palangka Raya. Ironisnya, kondisi ini terjadi ketika kualitas udara sedang memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sehingga warga harus berlama-lama berada di luar ruangan untuk mendapatkan BBM.

Pantauan Kalteng Pos, Minggu (6/9/2026), antrean kendaraan di SPBU Palangka Raya mengular.
Kendaraan yang hendak mengisi BBM diarahkan petugas ke tiga jalur antrean di luar area SPBU. Pengendara pun harus menunggu cukup lama sebelum mendapatkan BBM.

Baca Juga: Update Harga BBM Awal September 2026, Sejumlah BBM Non-subsidi Naik

Situasi tersebut menjadi semakin berat karena kabut asap masih menyelimuti Kota Palangka Raya. Sebagian pengendara terlihat menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap, sementara sebagian lainnya tidak mengenakan pelindung.

Bahkan, beberapa warga mulai mengalami batuk ketika menunggu giliran mengisi BBM. Di tengah antrean tersebut, kualitas udara Palangka Raya terpantau berada pada kondisi sangat buruk.
Konsentrasi partikulat halus PM2.5 mencapai 415,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dan masuk kategori berbahaya.

Kondisi ini membuat antrean BBM bukan sekadar persoalan waktu. Masyarakat yang membutuhkan bahan bakar harus menghadapi risiko paparan udara buruk selama menunggu di luar SPBU.

Antrean panjang serupa sebelumnya juga sempat terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Saat itu, Pertamina menyampaikan bahwa stok BBM berada dalam kondisi aman dan tidak terdapat kendala pasokan. Namun, antrean kembali terjadi di lapangan.

Kemarau dan Karhutla Ganggu Distribusi BBM

Sales Area Manager (SAM) Pertamina Kalteng, Donny Prasetya, mengatakan antrean kali ini salah satunya dipengaruhi kondisi kemarau dan karhutla yang berdampak terhadap proses pengiriman BBM menuju SPBU.

Baca Juga: Selisih Harga Pertamax dan Pertalite Picu Antrean BBM, Hiswana Migas Bantah Ada Permainan

“Saat ini karena faktor kemarau dan karhutla menjadi salah satu faktor adanya keterlambatan pengiriman ke SPBU,” kata Donny, Minggu (6/9/2026).

Menurutnya, kondisi kemarau dan kekeringan membuat arus pasang surut menjadi lebih dinamis dibandingkan kondisi normal. Kondisi tersebut turut memengaruhi proses distribusi BBM.
Selain itu, kabut asap yang mengganggu jarak pandang membuat mobil tangki BBM harus menyesuaikan kecepatan dan mengikuti arahan petugas di lapangan.

Untuk mempercepat distribusi, Pertamina mulai melakukan langkah mitigasi dengan melibatkan Depot Sampit untuk membantu pengiriman BBM, khususnya Pertalite, menuju SPBU di Palangka Raya.

“Sebagai mitigasi kami dibantu oleh Depot Sampit untuk membantu pengiriman BBM, khususnya Pertalite agar penyaluran ke SPBU Palangka Raya bisa lebih cepat,” jelasnya.

Donny mengatakan langkah tersebut mulai dilakukan pada Minggu (6/9/2026). Upaya itu dapat dilakukan setelah jembatan di Kasongan kembali bisa dilalui mobil tangki BBM.

Pertamina Bantah Ada Pengurangan Pengiriman

Terkait kapan antrean SPBU kembali normal, Donny berharap kondisi tersebut dapat segera teratasi.

“Kami harapkan secepatnya,” ujarnya.
Ia sekaligus membantah isu mengenai adanya pengurangan volume pengiriman BBM ke SPBU.

Menurut Donny, jumlah BBM yang dikirim mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk kapasitas tangki SPBU saat pengiriman serta ketersediaan loading order ketika pemesanan dilakukan.

Ojek Online Kehilangan Order

Antrean panjang tersebut turut berdampak terhadap masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas harian, termasuk pengemudi ojek online.

Salah seorang pengemudi ojek online, Tio, mengaku memilih mengantre di SPBU karena harga Pertalite lebih terjangkau dibandingkan BBM eceran.

Namun, waktu yang dihabiskan untuk mengantre membuatnya kehilangan kesempatan menerima pesanan.

“Kalau ngantri lama, padahal waktunya bisa digunakan buat cari customer. Sangat dirugikan. Ini saja saya mengantri 30 menit sudah kelewat dua orderan yang tidak saya terima,” ungkapnya.

Di tengah kondisi kabut asap, Tio memilih mengenakan masker karena khawatir terpapar asap. Ia mengaku sebelumnya sempat mengalami batuk.

Ia berharap persoalan karhutla beserta dampaknya terhadap aktivitas masyarakat segera mendapat perhatian dan penanganan pemerintah.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
pertalite kabut asap bbm karhutla ojek online