PALANGKA RAYA – Antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Palangka Raya yang mengular dipengaruhi sejumlah faktor.
Salah satunya keterbatasan kapasitas pelayanan SPBU yang tidak sebanding dengan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertalite.
Baca Juga: Pertamina Beberkan Penyebab Antrean BBM Mengular di SPBU yang Ada di Palangka Raya
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM dan Perindustrian (DPKUKMP) Kota Palangka Raya Samsul Rizal mengatakan, kondisi tersebut diketahui berdasarkan hasil pendampingan Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) terkait antrean BBM.
“Dan kapasitas SPBU yang terbatas mengakibatkan antrean mengular,” kata Samsul, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, persoalan terjadi ketika jumlah kendaraan yang membutuhkan BBM meningkat dalam waktu bersamaan. Kondisi itu membuat kemampuan pelayanan SPBU tidak mampu mengimbangi tingginya permintaan.
Salah satu pemicu meningkatnya permintaan adalah perbedaan harga BBM. Harga yang lebih rendah membuat masyarakat lebih banyak memilih Pertalite sehingga jumlah pembelian ikut meningkat.
“Karena perbedaan harga, permintaan Pertalite oleh warga meningkat,” ujarnya.
Meningkatnya transaksi Pertalite juga berdampak pada kebutuhan barcode untuk memperoleh BBM bersubsidi. Bertambahnya masyarakat yang melakukan pembelian membuat kebutuhan barcode ikut meningkat.
Baca Juga: Pertamina Klaim Stok BBM Aman, Padahal Antrean SPBU di Kotim Panjang Bahkan Stok Habis
“Yang mengakibatkan pembelian ikut meningkat dan kebutuhan barcode juga bertambah,” lanjut Samsul.
Distribusi BBM Terganggu Kabut Asap
Selain kapasitas SPBU dan tingginya permintaan, faktor distribusi juga turut memengaruhi panjangnya antrean BBM di Palangka Raya.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebabkan jarak pandang pengemudi mobil tangki menjadi terbatas.
Kondisi tersebut berdampak pada perjalanan kendaraan pengangkut BBM dari Fuel Terminal Pulang Pisau menuju Palangka Raya. Waktu tempuh kendaraan dapat mengalami keterlambatan sekitar satu hingga dua jam.
Baca Juga: Pemko Palangka Raya Kolaborasi Dengan Pertamina untuk Sediakan Jalur Khusus di SPBU
Keterlambatan distribusi tersebut membuat pasokan BBM ke SPBU tidak datang secepat kondisi normal. Ketika pasokan terlambat sementara permintaan tetap tinggi, antrean kendaraan pun berpotensi semakin panjang.
Dengan demikian, panjangnya antrean BBM di Palangka Raya tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pasokan, tetapi juga dipengaruhi kapasitas pelayanan SPBU, meningkatnya permintaan Pertalite, serta gangguan distribusi akibat kabut asap karhutla.(*)
Editor : Ayu Oktaviana