PALANGKA RAYA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak terhadap aktivitas perdagangan di Pasar Besar Palangka Raya.
Pedagang buah, cabai, hingga ayam mengaku mengalami penurunan jumlah pembeli dan pendapatan dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga: Ketika Karhutla Berdampak bagi Petani Gubernur Agustiar Sabran Langsung Beri Bantuan
Husnul Khatimah, salah seorang pedagang buah di Pasar Besar, mengatakan pendapatannya turun cukup drastis. Jika sebelumnya mampu meraup omzet lebih dari Rp2 juta per hari, kini hanya sekitar Rp500 ribu.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi berkurangnya pembeli yang memilih mengurangi aktivitas di luar rumah akibat kabut asap.
“Untuk saat ini sangat jauh perbedaannya. Buah yang kami ambil untuk dijual sekitar Rp25 ribu sampai Rp30 ribu per kilogram, sementara harga jual buah masih normal,” kata Husnul, Selasa (29/9/2026).
Meski kabut asap menyelimuti Kota Palangka Raya, Husnul tetap berjualan sejak sekitar pukul 06.00 WIB hingga malam hari. Namun, kondisi tersebut membuat pendapatan selama sekitar dua bulan terakhir menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Kemarau Jadi Tantangan Petani Melon Sampit, Air Sulit tetapi Buah Lebih Manis
Ia juga mengeluhkan harga sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan. Menurutnya, kenaikan harga tersebut membuat pedagang harus mengeluarkan modal lebih besar, sementara jumlah pembeli justru berkurang.
“Kalau bantuan, kami belum pernah mendapat. Selama ini paling bantuan berupa masker,” ujarnya.
Harga Cabai dan Ayam Ikut Naik
Tekanan akibat kondisi kabut asap juga dirasakan pedagang komoditas lainnya. Harga cabai saat ini disebut mencapai Rp110 ribu per kilogram, naik dari harga normal sekitar Rp80 ribu per kilogram.
Sementara harga daging ayam mencapai Rp39 ribu per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp35 ribu.
Linda, pedagang ayam, mengatakan penurunan pendapatan mulai terasa dalam lebih dari sepekan terakhir. Pembeli yang biasanya datang sejak dini hari hingga pagi juga mulai berkurang.
Baca Juga: Harga Cabai Rawit di Palangka Raya Tembus Rp140 Ribu per Kilogram
“Sudah seminggu lebih pendapatan turun. Biasanya pembeli adalah pelanggan yang datang sejak mulai berjualan sekitar pukul 00.00 sampai 10.00 WIB. Tahun-tahun sebelumnya harga masih normal,” kata Linda.
Kondisi tersebut membuat pedagang harus tetap berjualan meski aktivitas pasar tidak seramai biasanya. Kabut asap tidak hanya berdampak pada kesehatan dan mobilitas warga, tetapi juga mulai dirasakan pelaku usaha yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas jual beli harian.(*)
Editor : Ayu Oktaviana