MIFTAH, Sampit
DENGAN berbagai karomah dan pengaruh Kai Jungkir di Kota Sampit, akhirnya Kai Jungkir yang wafat pada tahun 1948 itu terus dikenal oleh masyarakat Sampit. Makam yang terletak tepat di depan rumahnya acap kali diziarahi penziarah sambil mendoakan Kai Jungkir.
Nama Jungkir pun bukan tanpa alasan. Menurut Indra yang merupakan buyut dari Kai Jungkir, Kai Jungkir kala itu lahir dalam keadaan kaki yang keluar terlebih dahulu. Hal itulah yang membuatnya dinamakan Jungkir.
“Dulu beliau lahirnya kaki duluan, makanya disebutnya dengan Jungkir,” imbuh Indra.
Meski masuk cagar budaya, rumah Kai Jungkir mengalami kerusakan terutama di bagian dapur. Saat ini ada bagian dari dapur tersebut. Upaya perbaikan dilakukan dinas terkait. Namun, keterbatasan dana menjadi hambatan.
“Roboh dapurnya hilang 25 persen. Upaya perbaikan ada, tapi katanya terkendala dana,” sebutnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim, Bima Eka Wardhana juga turut datang bersama Kalteng Pos. Staf Disbudpar Kotim, bidang sejarah dan pelestarian cagar budaya dan permuseuman, Ariadi. Dalam kesempatan itu, Ariadi, mengatakan Kai Jungkir yang merupakan tokoh agama, budaya dan masyarakat di Kota Sampit. Sepak terjangnya yang ada di zaman penjajahan berhasil menjadikan Kai Jungkir menjadi tokoh yang berpengaruh. Tak ayal, Kai Jungkir juga disebut-sebut sebagai pejuang zaman dahulu.
“Sekelas Kai Jungkir bisa mempengaruhi zaman penjajahan kala itu. Kalau kita pasti berfikir beliau ini punya sesuatu semacam karomah,” sebutnya.
Meski begitu, sepak terjang Kai Jungkir tak bisa dilepaskan dari sang ayah. Namun, ayah Kai Jungkir dianggap masyarakat biasa-biasa saja. Makamnya yang berada di wilayah Samuda masih sering diziarahi para penziarah.
Ia juga menceritakan Selain dari cerita lisan yang berkembang di masyarakat, ada pula versi sejarah yang menyebut asal-usul nama Sampit berasal dari eksistensi sebuah kerajaan tua yang berdiri di wilayah Bagendang sekitar tahun 1600-an. Kerajaan itu dikenal dengan nama Kerajaan Sungai Sampit, yang saat itu dipimpin oleh Raja Bungsu.
Dari berbagai catatan sejarah lokal dan tradisi lisan, disebutkan bahwa Raja Bungsu memiliki dua orang anak, yaitu Lumuh Sampit dan Lumuh Langgana. Nama Sampit diyakini berasal dari nama salah satu anak raja tersebut, yakni Lumuh Sampit. Nama ini kemudian digunakan untuk menamai sungai yang mengalir di wilayah kerajaan, yakni Sungai Sampit, yang kelak juga menjadi nama daerah yang kita kenal hingga kini.
“Di kitab Empu Tantular itu ada disebut kata ‘Sampit’. Tapi letaknya belum diketahui secara pasti. Namun dalam sejarah lokal, disebutkan tahun 1600-an sudah ada kerajaan yang dipimpin Raja Bungsu, dan salah satu anaknya bernama Sampit,” ujarnya.
Catatan sejarah lainnya juga mengaitkan Sampit sebagai bagian dari wilayah yang disebut dalam kitab Negarakertagamakarya Mpu Prapanca pada tahun 1365, yang menandakan bahwa kawasan ini telah memiliki peran penting sejak masa Majapahit. Kini, jejak kerajaan tua itu masih tersisa dalam bentuk artefak seperti bekas tiang ulin, keramik, dan kapal yang ditemukan di sekitar wilayah PT Indo Belambit, lokasi yang diduga kuat sebagai pusat Kerajaan Sungai Sampit. (*/ala) Editor : Administrator