Ustaz Saleh kembali melanjutkan cerita mengenai pembangunan Pondok Pesantren Manba’u Darissalam di Jalan Mendawai, Palangka Raya pada tahun 2017 lalu.
Pembangunan ponpes ini menurutnya berawal dari keresahan, karena anak-anak dari Kalteng harus belajar agama ke luar kota
DHEA UMILATI, Palangka Raya
“BANYAK anak-anak di Kalimantan Tengah ingin belajar agama, tapi biaya sekolah ke luar kota terlalu mahal,” kata Ustaz Saleh, Wakil Pimpinan Pondok saat didatangi oleh Kalteng Pos, Senin (28/7).
“Dari situlah, pondok ini didirikan, dengan moto Dari umat, demi umat, untuk umat,” tambahnya.
Biaya masuk pondok pun sangat terjangkau. Di tahun ini hanya Rp 4 juta sudah termasuk makan dua bulan, lemari, kasur, kitab, pakaian seragam, dan SPP dua bulan. Bahkan dari jumlah itu, Rp 3,7 juta kembali ke kebutuhan santri, dan hanya Rp.300 ribu dipotong untuk pembangunan.
“Banyak juga yang nggak bisa bayar,” akunya.
“Kami subsidi silang, sebagian santri kami biayai dari sumbangan masyarakat. SPP bulanan pun hanya Rp 600 ribu, dengan fasilitas makan tiga kali sehari. Mereka tetap makan bergizi, nggak pernah ikan asin,” ujarnya.
Selain belajar, para santri juga diajarkan berdikari. Pondok ini memiliki pabrik roti sendiri bernama Roti Pondok yang sudah mendistribusikan produknya hingga ke Katingan dan Sampit, yang dalam waktu dekat juga direncanakan akan di distribusikan ke Gunung Mas. Sebagian santri membantu di pabrik tersebut, termasuk anak-anak yang tak mampu membayar. “Dari santri, oleh santri, untuk santri,” seloroh Ustaz Saleh sembari tersenyum bangga.
Pondok ini tidak hanya fokus pada pendidikan agama.
Sistem pendidikan yang diterapkan adalah Pendidikan Diniyah Formal (PDF) yang diakui setara dengan madrasah negeri. Para guru dan ustaz-ustazah berjumlah 50 orang, ditambah kakak asrama yang mendampingi di setiap asrama, satu asrama dua pendamping.
“Sekarang kita sudah adopsi pendidikan nasional. Jadi anak-anak bisa lanjut ke pendidikan tinggi formal. Alhamdulillah pengajar di sini juga rata-rata sudah menempuh jenjang magister,” jelasnya.
Meskipun musibah telah terjadi, harapan tetap menyala. Suasana pondok yang sederhana, hangat, dan sarat semangat gotong royong menjadi bukti bahwa pendidikan adalah investasi yang tak boleh padam, bahkan oleh api sekalipun.
“Kalau pemerintah bisa datang, melihat langsung, tentu kami sangat senang. Mungkin dari situ bisa muncul perhatian lebih,” harapnya. “Kami tak meminta-minta, tapi mengetuk hati untuk bersama membangun kembali tempat pendidikan anak-anak umat ini,” tuturnya.
Ustaz Saleh juga menambahkan, santri akan kembali ke pondok pada 1 Agustus mendatang. “Kita tidak bisa membiarkan mereka terlalu lama libur, sebentar lagi ujian semester kasian anak-anak kalau banyak yang terlewat pelajarannya,” ungkapnya.
Untuk sementara waktu santri yang asramanya terbakar akan menempati ruang belajar sebagai kamar barunya, sedangkan untuk proses belajar mengajar akan dipindahkan ke musala.
“Kalau menunggu pembangunan asrama baru rasanya sangat sulit untuk di bangun dalam waktu dekat, jadi kita putuskan untuk mengambil langkah ini," pungkasnya. (*/ala)
Editor : Ayu Oktaviana